SUDAH  menjadi rutinitas tahunan di Gereja Paroki Kristus Raja – Serang,  dalam menyambut pesta nama pelindung Paroki. Aneka kegiatan digelar untuk menyemarakan suasana tahunan ini. Ada yang berbeda pada tahun 2018 ini. Untuk menyambut ulang tahun yang ke-64 (8 windu), diadakan berbagai macam perlombaan baik yang bersifat liturgis maupun non liturgis dan dipercayakan kepada Orang Muda Katolik (OMK) sebagai panitia pelaksana. Perlombaan diadakan selama sebulan sebelum puncak perayaan pesta nama pelindung Paroki sekaligus peringatan Hari Raya Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam, Minggu, 25 November 2018.

Berbeda dari  hari Minggu umumnya. Perayaan Ekaristi dipimpin  3 imam Diosesan yakni   RD. Stefanus Maria Sumardiyo Adiparnoto sebagai Selebran utama didampingi RD. Stefanus Edwin Ticoalu dan RD. Bartholomeus Wahyu Kurniadi sebagai konselebran. Tepat Pukul 08.30 WIB perayaan ekaristi dimulai. Warna Bhineka Tunggal Ika muncul di acara nan akbar ini.  Apa gerangan?  Pada saat perarakan memasuki Gereja dimana panji dari semua lingkungan, kelompok kategorial, Stasi, Wilayah dan Paroki diarak  Orang Muda Katolik, hati umat yang hadir terasa haru. Pembawa panji semuanya  mengenakan busana adat dari berbagai daerah di tanah air. Tidak ada sekat perbedaan dengan latar belakang suku, adat istiadat, ras, warna kulit, semua membaur jadi satu hati.

Dalam homilinya Romo Sumardiyo menegaskan bahwa Yesus sebagai Raja Alam Semesta yang menunjukan penghakiman atas semua manusia dan segala makluk yang ada di dunia ini. Hari raya Kristus Raja Alam Semesta ini dirayakan untuk menyambut tahun baru, sesudah umat sepanjang tahun liturgi merayakan kebaktian kita kepada Allah dan kita hendak memulai tahun yang baru.

Ditegaskannya bahwa  Sabda Tuhan Yesus  mengajak umat  untuk melihat lagi kenyataan hidup,  apakah Yesus masih menjadi Raja yang bertakhta dan berkuasa didalam hidup diri masing-masing, dalam keluarga, dalam Lingkungan dan juga dalam Wilayah, Stasi maupun Paroki?

“Ketika  banyak kekuasaan yang menarik-narik kita, masihkah kita setia menempatkan Yesus di tempat yang terbaik dan menjadi pusat hidup kita hari demi hari dari tawaran dunia yang begitu menggiurkan? Jangan sampai Kristus Yesus Sang Raja kita parkirkan atau kita pasifkan sementara karena kita mendapatkan kedudukan penting ditengah masyarakat,” kata Romo Sumardiyo.

Dikatakannya, tidak jarang Yesus terabaikan dalam hidup kita sehari-hari. Ia memang Raja yang bersemayam dalam diri kita tetapi sering tidak kita menyapa, tidak kita pedulikan, tidak kita minta nasehat, bimbingan dan pertimbangan, ketika kita hendak mengambil keputusan..

Seusai perayaan Ekaristi OMK beserta panji-panji yang sebelumnya dibawa kedalam Gereja membuka rangkaian acara selanjutnya dengan melakukan perarakan menuju aula Alexander diiringi tarian Ja’i dari Flores.  Maka perayaan pesta nama Paroki Kristus Raja – Serang yang kali ini bertemakan “Kita Hadirkan Kerajaan Allah Dengan Mewujud-nyatakan Sesanti Li-Ma-K Di Paroki Kita Kristus Raja – Serang” pun dimulai. Kemeriahan langsung terasa dengan berbagai pentas seni yang dimulai dari tarian-tarian oleh TK Mardi Yuana, BIA, perwakilan wilayah Serang, wilayah Cikende, Stasi Cilegon dan juga dari PAKLIK  serta nyanyian yang dipersembahkan oleh para pemenang solo vocal anak-anak dan dewasa.

Puncak dari acara Pesta Nama Paroki adalah pemotongan tumpeng yang terpilih sebagai juara dari tumpeng pemeng lomba antar lingkungan se-Paroki Kristus Raja – Serang.  (Komsos Paroki Kristus Raja Serang).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here