PESTA KELUARGA KUDUS” – MINGGU, 30 DESEMBER 2018

TEMA : “JADIKANLAH KELUARGA SEBAGAI SEKOLAH KEHIDUPAN

Hari ini Gereja merayakan Pesta Keluarga Kudus. Injil Lukas mengisahkan sikap Yesus terhadap ayah dan ibu-Nya. Setelah tiga hari bapa Yusuf dan ibu Maria mencari dan menemukan kembali Yesus, yang berumur 12 tahun. Kata mereka : “Nak, mengapa Engkau berbuat demikian terhadap kami? Lihatlah, Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau?”

Jawaban Yesus: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Kiranya ayat ini diterjemahkan begini : “Aku harus memusatkan pikiran-Ku kepada kehendak Bapa.” Artinya, Yesus menunjuk kepada Allah sebagai Bapa-Nya dan ketaatan kepada Bapa-Nya di surga harus didahulukan! Kemudian Lukas hanya memberi berita pendek : “Yesus pulang bersama bersama mereka ke Nasaret, dan Ia belajar tetap hidup dalam asuhan mereka. Yesus makin bertambah besar dan bertambah pula hikmat-Nya, Ia makin besar dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.”

Dalam keluarga Yesus, Maria dibimbing bapa Yusuf (Mat. 13:55). Paus Paulus VI pernah berkata, Nasaret adalah suatu sekolah, tempat kita belajar mengenal bagaimana hidup Kristus, dengan demikian kita memahami makna Injil yang harus diwartakan-Nya.

Pertama : kita belajar ketenangan. Kita hidup di tengah keramaian, kesibukan dan ketegangan. Keheningan Nasaret mengajar kita untuk bersikap tenang, kedalaman batin, mendengarkan suara Allah, merenungkan dan menangkap kehendak-Nya, dan berdoa penuh iman.

Kedua : kita belajar mengenal Keluarga Nasaret, rumah tukang kayu, tentang pekerjaan dan semangat kerja Yusuf. Kita belajar bahwa setiap karya punya nilai atau martabatnya sendiri. Semua karya dibutuhkan orang. Bukan kehebatan karyanya, melainkan semangat dalam melakukannya. Itulah yang penting dan sungguh berharga.

Ketiga : Kita diajak merenungkan makna dan nilai perkawinan dan keluarga. Situasi dan kondisi masyarakat kita sekarang, dengan bermacam iklan, kegiatan, gerakan propaganda memperkenalkan tentang perkawinan yang menarik: pakaian nikah gaya baru, kartu undangan yang indah, resepsi mahal, rumah kediaman yang elok.

Namun, “jangan pernah lupa persiapan mental, persiapan batin dan spiritual yang tak boleh terlupakan“. Kesederhanaan Yusuf dan Maria, sebelum dan sesudah hidup sebagai keluarga, ketulusan hati, rasa saling menghargai dan mengasihi, kesediaan saling memahami dan menolong, dan tanggung-jawab total terhadap anak mereka.

Seperti keluarga Yusuf, Maria dan Yesus di Nasaret dahulu merupakan sumber Injil bagi masyarakat pada saat itu. Semoga Keluarga-keluarga Kristiani di zaman kita sekarang ini juga merupakan sumber pewartaan Injil tentang Keluarga sejati yang “bahtera” : bahagia, harmonis, tenteram dan sejahtera.

Berkah Dalem

RD. St. Sumardiyo Adipranoto

Selamat Tahun Baru 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here