MINGGU 14 April 2019 merupakan perayaan Minggu Palma dan menjadi salah satu hari yang sangat istimewa bagi umat Katolik di seluruh dunia, yaitu bukan sekedar perayaan yang selalu jatuh pada hari Minggu sebelum Paskah, juga hari dimana umat Katolik mengingat kembali kesengsaraan Yesus Kristus ketika di salib. Perayaan Minggu Palma tentu identik dengan daun palem yang saat perayaan berlangsung, umat katolik akan mendapatkan daun palem, selain itu gereja juga dihiasi dengan  ornament palem.

Perayaan Minggu Palma di Paroki Kristus Raja – Serang dipimpin oleh RD. Stefanus Maria Sumardiyo Adipranoto sebagai Selebran utama didampingi  RD. Stefanus EdwinTecoalu dan RD. Bartolomeus Wahyu Kurniadi sebagai Konselebran.

Dalam perayaan ini, semua umat berkumpul dalam bedeng yang sudah disiapkan panitia. Selanjutnya diadakan pemberkatan dan pemercikan daun palma oleh pastor dengan cara melintasi bedeng yang telah dipenuhi umat sambil mengangkat daun palma.

Sebelum memasuki gereja romo Sumardiyo menyampaikan homili singkat. Beliau mengatakan bahwa membawa daun palma menandakan kita memasuki Minggu Suci, untuk mengenang kisah sengsara Tuhan kita Yesus Kristus yang bertepatan juga dengan hari pemilihan umum. Mulai hari ini kita menciptakan keheningan, hati yang damai, hati yang tenang untuk membatinkan, atau menginternalisasikan apapun yang sudah kita lakukan selama ini sehingga pada saat nya kita nanti mendengarkan suara hati kita untuk menentukan calon pemimpin bangsa kita.

Kita mau mengiringi perjalanan Yesus menuju kota suci Yerusalem untuk menggenapi karya penyelamatannya melalui sengsara dan wafat di kayu Silib. Disitulah kehadiran Yesus ditolak, Yesus dizolimi, Yesus difonis mati walau tidak bersalah. Namun di Yerusalem itu jugalah terlaksana karya keselamatan Agung Allah dalam pribadi Yesus Tuhan kita. Sehingga Yerusalem juga disebut sebagai Yerusyalom karena disanalah mengalir syalom, kedamaian, keselamatan dan kesejahteraan bagi kita.  Yesus menghadapi semua ini di Yerusalem dengan semangat yang sama yaitu ketaatan kepada Allah Bapa-Nya dan cinta yang seutuhnya bagi kita umat manusia.

Mari kita mengiringi perjalanan Yesus dengan semangat yang sama. Kita iringi dengan penuh suka cita Karya Yesus yang akan membawa damai keselamat itu namun kita tidak boleh berhenti pada sukacita yang kita alami ketika kita memasuki kota Yerusalem. Kita harus berani masuk dan terlibat dalam pengorbanan Yesus ini guna menyelamatakan banyak saudara saudari kita yang mungkin terasingkan, dikesampingkan atau kurang diperhatikan. Demikian disampaikan oleh romo Sumardiyo.

Romo juga mengajak umat untuk mengingat kembali kata-kata bapa suci Paus Fransiskus dalam misa perdananya tanggal 04 Maret yaitu menegaskan “jika kita berjalan tanpa Salib, kita membangun tanpa salib, kita mengangkut tanpa salib, kita bukanlah murid Kristus. Kita menjadi hamba dunia dan bapa paus ingin agar kita kembali berjalan  dalam bimbingan dan tuntunan Tuhan”.  Namun gereja di paroki Kristus Raja – Serang ini mendasarkan pada perjumpaan dengan Yesus Kristus maka dengan demikian Gereja kita akan maju, berkembang dan berbuah.

Selanjutnya umat melakukan perarakan menuju gereja diiring lagu Yerusalem… Lihatlah Rajamu.. oleh petugas koor dari wilayah St. Rafael – Serang. (Komsos Paroki Kristus Raja-Serang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here