Minggu Prapaskah IV – 26 Maret 2017

Tema : “Bersyukur dan Bersukacitalah Senantiasa!

Kita memasuki Minggu Prapaskah IV, yang biasa disebut Minggu Laetare atau Minggu Sukacita. Bersama Nabi Yesaya kita berseru: “Bersukacitalah hai Yerusalem dan berhimpunlah, kamu yang mencintainya, bergembiralah dengan sukacita hai kamu yang dulu berdukacita, agar kamu bersorak sorai dan puaskanlah dengan kelimpahan penghiburanmu” (lih. Yes 66: 10-11).

Mengapa kita harus bersukacita? Kita bersukacita karena Allah menghibur umat-Nya yang bertobat dan berharap kepada-Nya. Pertobatan yang dikumandangkan melalui Sabda Tuhan hari Minggu ini bertujuan untuk membuka mata kita dan menyadari bahwa Allah sangat mengasihi kita. Pertobatan membuat orang yang buta hati dapat melihat dengan mata kasih, orang lumpuh bisa berjalan untuk melayani dan berbagi kepada sesama.

Dalam bacaan pertama kita mendengar kisah Daud yang masih muda. Dia adalah seorang gembala sederhana dan memiliki kerinduan yang besar akan Allah yang hidup. Karena Saul tidak taat dan setia kepada Tuhan, maka Tuhan memilih Daud sebagai raja masa depan Israel. Dalam bacaan kedua Santo Paulus mewartakan penebusan yang berlimpah kepada manusia. Kepada Jemaat di Efesus Paulus mengatakan: ‘dahulu mereka berada dalam kegelapan, namun sekarang mereka harus bersukacita karena Terang Tuhan.’

Konsekuensinya adalah Jemaat di Efesus harus hidup sebagai anak-anak terang. Sebagai anak-anak terang, sedapat mungkin menjauhkan diri dari kegelapan atau dosa. Akhirnya Paulus menyerukan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur, dan bangkitlah dari antara orang mati, maka Kristus akan bercahaya atas kamu” (Ef 5:14).

Dalam Injil Yesus membuat sebuah mukjizat dengan menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir. Orang buta itu mengalami kesembuhan jasmani dan rohani. Ia lalu mengenal Yesus bukan hanya sebagai seorang nabi tetapi Anak Allah. Yesus melakukan karya besar bagi orang yang percaya dengan membuka mata hati dan melihat dengan mata Tuhan sendiri. Para murid Yesus mempertanyakan situasi orang buta ini apakah dia itu menjadi buta karena dosanya atau dosa orangtuanya.

Yesus membuka pikiran para murid-Nya dengan berkata: ‘ia menjadi buta bukan kesalahannya atau kesalahan orangtuanya. Dia menjadi buta agar pekerjaan Allah dinyatakan dengan sempurna di dalam dia.’ Yesus datang ke dunia untuk melakukan pekerjaan Allah. Dialah terang dunia, yang menerangi kegelapan dunia.

Hari ini kita bersukacita karena karya besar yang Allah lakukan bagi manusia. Marilah kita bersukacita karena pertobatan yang kita alami sebagai tanda nyata belas kasih dari Tuhan. Apakah ada syukur dan sukacita dalam hidup kita?

BERKAH DALEM

RD St. M. Sumardiyo Adipranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here