MINGGU PALMA : MENGENANG SENGSARA TUHAN – 9 APRIL 2017

TEMA : “TIADA CINTA SEJATI TANPA PENGORBANAN

Kita memasuki Pekan Suci. Kita akan merenungkan tentang Kisah Sengsara Tuhan Yesus Kristus. Urutan Kisah Sengsara Tuhan kita Yesus Kristus yang panjang isi pokoknya: Injil Matius berkisah tentang kelompok Yudas Iskariot yang mengkhianati Yesus, sedang mengadakan perjamuan malam terakhir dengan para murid-Nya.

Diwakili Petrus para murid berjanji akan tetap setia dan percaya kepada Yesus. Bersama Petrus, Yakobus dan Yohanes Yesus memasuki Taman Getsemani, tempat Ia mulai bergulat batin, merasa sangat sedih dan takut. Ia mulai merasakan penderitaan dan kematian yang akan ditanggung-Nya.

Yesus berdoa: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki!” (Mat 26:39). Akhirnya Yesus ditangkap. Meski sudah berjanji, para murid meninggalkan Yesus, sendirian. Lalu Yesus diadili, Petrus menyangkal sebagai murid-Nya. Dalam sidang pengadilan Pilatus melepaskan Barabas, dan memutuskan hukuman mati bagi Yesus.

Ternyata Penyaliban Yesus melukiskan perkenalan kasih Allah yang tidak terbatas kepada manusia. Yesus akhirnya wafat dan dikuburkan. Apa makna Kisah itu bagi kita? Injil Matius memberi pelajaran bagi kita bagaimana Roh Allah membimbing Yesus berdoa di saat menghadapi sakratul maut di kayu salib. Yesus berdoa: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (lih. Mat 27:46, bdk. Mzm 72).

Kita disadarkan bahwa Roh-Nya memberi kemampuan kepada kita untuk berdoa dan bertahan dalam menghadapi pencobaan hidup dan kematian kita sendiri. Yesus melakukan dengan makna baru. Korban yang dipersembahkan kepada Allah adalah diri-Nya sendiri.

Pemberian diri-Nya itu dimulai-Nya dengan mendaki bukit Zaitun dan diselesaikan di bukit Kalvari. Akhirnya, di tengah kegelapan malam jiwa-Nya, yang gelap gulita, di mana tak tampak kehadiran kasih Allah Bapa-Nya, Yesus tetap memegang teguh harapan-Nya dengan cahaya iman-Nya yang murni! Di saat mengalami kedahsyatan maut, Yesus itu tetap Putera yang dikasihi Bapa-Nya.

Yesus menyerahkan diri-Nya sepenuhnya ke dalam tangan Allah Bapa-Nya (Mat 27:50). Dalam diri Yesus kita memiliki teladan, bagaimana kita harus berani menyerahkan diri seutuhnya kepada kasih Allah.

BERKAH DALEM

RD St. M. Sumardiyo Adipranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here