Minggu Biasa ke XXVII – 8 Oktober 2017

YESUS BERJANJI TIDAK AKAN MEMUSNAHKAN KEBUN ANGGUR

Yesus datang untuk mendirikan suatu masyarakat baru, yang disebut sebagai “Kerajaan Allah“. Yesus menerangkannya dalam bentuk perumpamaan. Pesan Yesus dalam perumpamaan Injil Matius hari ini, bahwa Tuhan selalu memperhatikan dan merawat kita sebagai kebun anggur.

Ia tidak akan pernah meninggalkan kita sebagai murid-murid-Nya. Yesus menghendaki agar kita sebagai kebun anggur-Nya sungguh menghasilkan buah yang baik sesuai dengan kehendak-Nya. Yesaya dalam Perjanjian Lama menggambarkan bangsa Israel sebagai “kebun anggur“. Dalam Perjanjian Lama pemelihara bangsa Israel adalah para nabi. Ternyata pohon-pohon anggur itu menghasilkan buah anggur asam!

Bangsa Israel tidak menerima para nabi yang diutus Allah untuk memelihara mereka. Tetapi tidak mau mendengarkan dan menolak para nabi, yang hakikatnya berarti menolak kehendak Allah sendiri. Dan Yohanes yang harus mempersiapkan kedatangan Yesus, Putera Allah sebagai utusan-Nya pun sampai dibunuh.
Dalam Perjanjian Baru “kebun anggur” itu bangsa Yahudi sezaman dengan Yesus, yang akan dijadikan menjadi kebun pohon-pohon anggur yang menghasilkan anggur manis. Kebun anggur itulah yang merupakan gambaran Gereja, umat kristiani sebagai Gereja Kristus.

Gereja sebagai “kebun anggur“, dengan buahnya yang manis atau asam, selalu diperhatikan dan mau dipelihara Allah, dan tidak akan ditinggalkan-Nya. Ternyata pohon-pohon anggur yang telah ditanamkan-Nya tidak selalu menghasilkan buah yang manis, tetapi juga berbuah yang asam. Allah telah mengutus Putra-Nya untuk menggarap “kebun anggur”-Nya. Namun hasilnya justru sebalik-nya! Yesus pun dibunuh!

Yesus berjanji: “kebun anggur” itu tidak akan dimusnahkan! Sebab di antara pekerja-pekerja di “kebun anggur” masih ada orang-orang yang baik, dapat dipercaya dan setia. Jadi pasti ada orang-orang yang akan bersedia bekerja di sana. Itu sebabnya Yesus dalam Injil berkata: “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru“. Dengan Sabda itu Yesus mau menunjukkan, kematian-Nya bukan berarti Allah tidak berhasil.

Sebab kematian-Nya di salib akan diikuti dengan kemuliaan dalam kebangkitan-Nya. Bukan kekalahan, melainkan kemenangan! Karena itu kebun anggur itu akan dapat menghasilkan anggur baik yang manis.

Berkah Dalem

RD. St. M. Sumardiyo Adipranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here