Minggu Biasa ke XXVI – 1 Oktober 2017

MENGIYAKAN SAJA?

Adalah seseorang yang aktif ke gereja dan aktif juga sebagai pengurus lingkungan, merasa kecewa karena merasa dipersulit saat mengurus pernikahan anaknya di Gereja Katolik. Sebaliknya ada seorang yang lain jarang ke gereja, mendapat perlakuan yang baik.

Ternyata setelah diselidiki, ada beberapa persyaratan yang belum terpenuhi. Kepada pastor orang itu hanya berkata: “Siap Pastur“. Tapi setelah ditunggu-tunggu, tak pernah ada kelanjutannya. Sementara seorang yang lain, walau mengalami kesulitan dalam melengkapi berkas, tapi ia tetap mengusahakan dan berhasil.

Untuk mengatakan “Iya” jauh lebih gampang daripada melaksanakannya. Banyak orang hendak mempermudah segala persoalan dengan mengiyakan di depan, tanpa berfikir dan berusaha untuk melakukannya di kemudian hari.

Di dalam Injil hari ini, Yesus memberikan lagi perumpamaan kepada imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi tentang dua anak yang diberi perintah yang sama oleh ayahnya. “Anakku, pergilah, bekerjalah hari ini dalam kebun anggur“, katanya kepada anak yang sulung. Jawab anak itu, “Baik bapa“. Tetapi ia tidak pergi (Mat. 21: 29).

Sementara kepada si bungsu, ia juga memerintahkan hal yang sama, tetapi si anak menjawab, “Tidak mau“. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi menuruti perintah bapanya. Yesus bertanya : “Siapakah di antara kedua orang itu yang mengikuti kehendak bapanya?” Jawab mereka, “Yang terakhir” (Mat. 21: 30 – 31).

Di hadapan Allah dan Gereja, kita adalah anak-anakNya. Kita mendengar perintah Tuhan yang sama. Apakah kita melalukannya seperti anak yang kedua? Atau hanya sekadar mengangguk dan mengiyakan saja saat Injil dan homili diperdengarkan? Banyak orang dengan mudah mengagumi dan mudah mengiyakan kebenaran dalam Injil dan juga memuji sebuah khotbah, namun tidak mau berusaha dalam pelaksanaannya.

Inilah penipuan terhadap diri sendiri dan Tuhan. Kita terkadang terbawa perasaan yang keliru, yakni merasa cukup ketika kita sudah hadir dalam kegiatan gereja. Gereja dan segala suasana yang ada di dalamnya seperti candu yang membuat kita lupa akan tanggung jawab kita sesungguhnya. Bahkan seperti dalam cerita di atas, kita bisa merasa semua urusan akan dipermudah kalau sudah aktif menggereja tanpa mau mendengar apa yang mestinya dilakukan.

Kita harus belajar dari anak yang kedua, dimana dia sepertinya anak pembangkang, namun kemudian menyesal dan melakukan apa yang diperintahkan bapanya. Demikian halnya bagi Tuhan, penyesalan jauh lebih mulia daripada hanya sekadar “mengiyakan” tanpa berbuat sesuatu. Sebab, menyesal merupakan bukti kesadaran baru yang lahir dari dalam hatinya.

Oleh karena itu, Yesus mengingatkan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah”. (Mat. 21: 31)

(Ruah, Oktober 2017, hal. 11-12)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here