Minggu Biasa ke XXIV – 17 September 2017

Mengampuni

Injil hari ini adalah mengenai mengampuni. Salah satu sikap yang sulit dibentuk dan juga dipraktekkan. Di dalam kehidupan sehari-hari, baik dari orang yang dihadapi maupun dari berbagai kalangan, bahkan mungkin dari diri sendiri, mengampuni adalah suatu perjuangan karena membutuhkan proses untuk mendisposisikan diri.

Apalagi, orang yang dihadapi ini sangat menyakitkan melalui berbagai perbuatan, sehingga sikap mengampuni kadang menjadi sesuatu yang mustahil. Oleh sebab itu, tak jarang kita mendengar bahwa orang sulit dan bahkan tidak bisa mengampuni orang lain.

Walaupun sikap manusia bisa sampai pada titik tidak bisa mengampuni, tetapi Yesus memiliki nasihat lain yang mungkin bertentangan dengan fakta yang telah dikatakan sebelumnya. Ia menjawab pertanyaan Petrus mengenai kwantitas untuk mengampuni orang lain. Menurut Petrus, tujuh kali mengampuni orang yang menyakiti itu telah melampaui batas normal, bahkan suatu sikap sempurna dalam diri seorang.

Akan tetapi, jawaban Yesus sangat mengejutkan, karena Ia mengatakan kwantitas mengampuni jauh lebih banyak dari yang dipikirkannya (Mat. 18: 22).
Untuk apa mengampuni? Yesus tentu memberi alasan agar pengikutNya berjuang untuk mengampuni sesamanya. Sikap untuk mengampuni kesalahan orang lain adalah tanda kehadiran Tuhan di dalam diri orang tersebut.

Tuhan selalu mengampuni kesalahan setiap orang, dan dengan kehadiranNya di dalam diri pengikutNya itu dengan sendirinya juga menghadirkan sikap mengampuni akan kesalahan orang lain. Sikap seperti ini biasanya diukur dengan iman. Semakin dalam iman seseorang akan Kristus, dia akan semakin bisa mengampuni orang lain. Bahkan di dalam kitab Putra Sirakh (27: 30-30:9) menunjukkan tujuan luhur untuk mengampuni. Dengan sikap mengampuni orang lain, Tuhan juga mengampuni kesalahan orang yang mengampuni tersebut.

Mengampuni orang lain adalah sikap Kristiani yang sesungguhnya, yang bukan berarti mengalah atau mau dilecehkan atau direndahkan. Mungkin di mata orang adalah demikian, sehingga juga akan memberlakukan orang secara semena-mena. Akan tetapi, mengampuni adalah tindakan iman yang di mata orang lain adalah rendah dan tidak bernilai. Nilai sikap hidup akan ditunjukkan dari tindakan mengampuni tersebut.

Sehubungan dengan itu, kitab Putra Sirakh menutup Bacaan Pertama dengan himbauan, yang juga bisa menutup khotbah hari ini dengan berkata, “Jauhilah pertikaian, maka dosa kaukurangkan, sebab orang yang panas hati mengobar-obarkan pertikaian. Orang yang berdosa mengganggu orang-orang yang bersahabat, dan melontarkan permusuhan di antara orang-orang yang hidup dengan damai” (Sir. 28: 8-9). Orang yang memiliki sikap mengampuni, pasti tidak akan bertindak demikian. Bagaimana dengan kita?

(Ruah, September 2017, hal: 316-317).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here