Pesta Yesus Dipersembahkan Di Bait Allah – 2 Februari 2020

JADIKAN HIDUP ROHANIMU SEBAGAI DASAR KEBEHASILANMU

Pada hari ini Gereja merayakan “Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah“. Sebagai warga Yahudi, Keluarga Yusuf, Maria dan Yesus memenuhi ketentuan Taurat, 40 hari setelah kelahiran anak laki – laki harus dipersembahkan kepada Tuhan. Tindakan ini harus dilakukan tiap keluarga Yahudi.

Sepintas lalu apa yang dilakukan keluarga Yusuf itu hal biasa. Namun dari apa yang diucapkan Simeon dan Hana, sebagai dua orang yang telah lanjut usia tentang Yesus : terungkap apa peranan Yesus, Bayi yang dilahirkan oleh Maria, dan pernanan Maria. Yesus datang sebagai Penyelamat, yang dinanti-nantikan, sekaligus Yesus akan menjadi tanda, yang menimbulkan perbantahan atau pertentangan di antara orang banyak.

Bukan Yesus, Maria Ibu-Nya pun hatinya harus menanggung tembusan pedang. Apa yang mau disampaikan Lukas dalam Injilnya kepada kita? Kisah Injil Lukas hari ini sebenarnya amat mendalam makna rohaninya.

Menurut latar belakang pandangan Yahudi, seorang perempuan mulai saat menikah, dalam pergaulan suami isteri, mengandung dan melahirkan mengandung hal-hal manusiawi negatif, yang bertentangan dengan kehendak Allah. Maka seorang perempuan yang melahirkan anak harus “dimurnikan“.

Demi pemurnian itu hendaknya dipersembahkan anaknya laki-laki kepada Allah. Maria mempersembahkan suatu korban kepada Allah menurut kemampuannya. Bukan anak domba, melainkan sepasang burung tekukur. Namun secara rohani keadaan seorang perempuan yang bernama Maria ini total berlainan! Maria eorang ibu, tetapi tidak bernoda! Ia tidak mengandung dari seorang manusia, melainkan dari Roh Kudus.

Yesus ibaratnya bukan dibeli dari Allah lewat persembahan korban sepasang burung, yang hanya merupakan simbol. Kenyataannya, Yesus adalah Putera Tunggal Allah. Maka Yesus tidak perlu dibebaskan atau dibeli kembali secara simbolis lewat anak domba atau sepasang burung. Sebaliknya Ia justru harus membebaskan atau membeli kembali umat manusia yang berdosa.

Bukan dengan harta betapa besarnya pun nilainya, melainkan membayarnya dengan darah-Nya sendiri! Kita dapat menyimpulkan. Yesus di zaman-Nya taat memenuhi peraturan, baik dari pemerintahan Romawi maupun dari hukum Yahudi. Sekarang pun kita sebagai umat kristiani harus taat kepada peraturan dan hukum.

Sebab apa yang hakiki dan menentukan hidup kita sebagai orang kristiani dalam masyarakat kita. Namun apa yang lebih dituntut dari kita sebagai orang kristiani sejati adalah sikap pribadi kita di hadapan Tuhan. Bila tuntutan terhadap Tuhan kita penuhi, secara lahiriah akan terungkap, dan akan dikenal orang kesungguhan sikap dasar pribadi kita sebagai orang kristiani.

Memang dari diri kita dibutuhkan perubahan yang cukup mendasar, baik dalam hidup kita di tengah Keluarga, Gereja maupun di Lingkungan Kerja dan di tengah masyarakat kita.

BERKAH DALEM

RD St. Sumardiyo Adipranoto