MINGGU BIASA KE V – 10 FEBRUARI 2019

TEMA : “MULAI SEKARANG ENGKAU AKAN MENJALA MANUSIA”

Saat Simon dan kawan-kawannya sedang membersihkan jala, Yesus meminta Simon untuk menolakkan perahunya menjauh dari pantai. Setelah mengajar, Yesus berkata kepada Simon, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” (Luk 5:4). Sebagai orang yang berpengalaman
dalam hal menangkap ikan, tidak mudah menerima usul itu. Simon pun memiliki perasaan seperti itu.

Disertai rasa enggan dan kurang percaya ia menjawab Yesus, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga” (ay. 5). Setelah Simon bekerja keras semalaman dan pulang tepat waktu, tanpa hasil. Sekarang malah disuruh bekerja pada saat yang “kurang tepat“. Akan tetapi, ia belajar taat kepada Yesus. Betapa terkejutnya dia, saat jala ditebarkan dan diangkatnya penuh ikan-ikan besar. Bahkan jala mulai koyak dan teman-teman di perahu lain diminta untuk menolongnya karena banyaknya hasil tangkapan.

Melihat kejadian itu Simon terus tersungkur di hadapan Yesus. Dia melihat keilahian Yesus. Memang, tidak seorang pun layak di hadapan Allah, tidak seorang pun dapat bertahan di hadapan-Nya. Mengapa? Karena cahaya Allah menyilaukan mata manusia. Tidak seorang pun kuat melihatnya. Maka Simon berkata,
Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa” (ay. 8). Kasih Tuhan jauh lebih besar daripada dosa manusia. Kebenaran ini tampak dalam penegasan Yesus, “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala
manusia” (ay. 10). Simon dan kawan-kawannya dijadikan penjala manusia.

Apa maksudnya? Menjala manusia artinya membawa manusia kepada kehidupan, menghindarkan mereka dari maut. Tugas ini bukan tugas perorangan, melainkan tugas bersama, umat Allah, Gereja. Itulah sebabnya Gereja disebut “Sakramen
keselamatan“. Kita jangan hanya berpikir mengenai tugas Gereja dengan ukuran ritual saja, misalnya tugas menguduskan. Membaptis bukan hanya memasukkan orang ke dalam persekutuan Gereja. Demikian dengan tugas mewartakan Injil, bukan hanya dengan berkotbah.

Melalui karya kesehatan, Gereja menyelamatkan dari kematian fisik, melalui karya pendidikan, Gereja menyelamatkan orang dari kematian pengetahuan. Gereja
sebagai umat Allah perlu terus-menerus menawarkan wujud Kerajaan Allah yang menjawab kebutuhan zaman, termasuk bagi mereka yang terpinggirkan dalam masyarakat.

Semoga kita sebagai orang yang telah menerima Sakramen Baptis dan Krisma bersedia menjadi penjala manusia seperti Simon dan kawan-kawan.
Siap diutus Allah seperti Yesaya, “Ini aku, utuslah aku!” (Yes 6:8).

Berkah Dalem

RD. St. M. Sumardiyo Adipranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here