MINGGU BIASA KE III – 27 JANUARI 2019

TEMA “TAHUN RAHMAT TUHAN TELAH DATANG”

Bacaan pertama hari ini diakhiri dengan seruan : “Jangan bersusah hati, tetapi bersukacitalah karena Tuhan, sebab sukacita karena Tuhanlah perlindunganmu !”. Dalam bacaan kedua Santo Paulus mengingatkan kita, bahwa “Kamu semua adalah tubuh Kristus, dan masing-masing adalah anggotanya.

“Dan dalam Injil Lukas hari ini, Tuhan Yesus berkata : “Aku diutus memberitahukan, bahwa tahun rahmat telah datang.” Menurut Yesaya, Almasih datang untuk memberikan kabar baik kepada orang miskin, pembebasaan
kepada orang tawanan, penglihatan kepada orang buta, pembebasan kepada orang tertindas (lih. Yes 61:1-2). Itulah tujuan kedatangan Almasih.

Yesus menegaskan, bahwa “tahun rahmat Tuhan itu telah datang!” Apakah makna “rahmat Allah sudah datang”? Dalam bahasa Injil lazim dipakai juga istilah “Kerajaan Allah sudah datang”. Kedua istilah itu artinya sama. Yesus sudah datang. Ia sudah menebus dan menyelamatkan dunia. Ia juga sudah mendirikan Gereja-Nya untuk meneruskan pemberian rahmat Allah dan membangun
Kerajaan-Nya. Rahmat Allah dan Kerajaan Allah memang tidak dapat dipahami atau disamakan dengan kenyataan duniawi, yang serba tampak.

Mereka itu melukiskan perubahan keadaan dunia sebagai Kerajaan Allah, langsung terjadi : aman, makmur, damai sejahtera, tanpa perpecahan, permusuhan, tanpa bencana alam, dsb. Yesus datang mewartakan, melaksanakan dan memberi kerajaan rohani, spiritual, bukan jasmani, fisik. Inilah ketegangan penghayatan iman, yang harus kita miliki dan hayati sebagai orang beriman. Ketegangan
akan Kerajaan Allah yang sudah ada, dan yang belum ada.

Kerajaan Allah ada dalam diri Yesus, dalam pewartaan-Nya, dalam karya penyelamat-Nya, yang disertai dengan tanda-tanda kebenarannya, seperti
penyembuhan orang sakit, memberi makan dan minum kepada orang yang lapar dan haus, mengusir roh jahat atau setan, bahkan membangkitkan kembali orang mati.

Kita tidak tahu, Yesus pun mengatakan bahwa Ia tidak tahu, berapa lamanya masa ketegangan yang harus kita alami dalam waktu antara “sudah adanya” dan “belum adanya” kepenuhan penyelenggaraan “rahmat Allah” dan “Kerajaan Allah” yang tengah berlangsung.

Dengan latar belakang Injil Lukas ingin mengingatkan kita dan menegaskan bahwa Iman kita kepada Yesus bukan sekadar suatu pengetahuan atau ilmu, melainkan keyakinan, bahwa Yesus sungguh Almasih, Penyelamat kita, seperti dibuktikan-Nya lewat ajaran, hidup, sikap dan perbuatan-Nya.

Untuk dapat diselamatkan, kita harus terus mempersiapkan diri dengan sungguh hati, bukan secara ikut-ikutan dunia. Iman kita harus diuji kesungguhan dan kesetiaannya.

Berkah Dalem

RD. St. M. Sumardiyo Adipranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here