MINGGU PRAPASKAH V – 18 MARET 2018

Tema : “Kerinduan Kita Ingin Memandang Wajah Yesus

Bacaan Suci Minggu Prapaskah V ini mengundang kita untuk memandang wajah Yesus sebagai Imam Sejati, yang sanggup menderita, berbelas-kasih, berempati dan memiliki solidaritas yang mendalam dengan sesama. Orang Yunani, yang bukan orang Yahudi, ingin bertemu dan melihat wajah Yesus.

Kita ini bukan “orang-Yunani“, bukan “orang-Yahudi“, tetapi juga ingin seperti orang Yunani berjumpa dengan Yesus, untuk melihat wajah-Nya dan sungguh mengenal Yesus yang sebenarnya sebagai Penyelamat. Dalam Injilnya Yohanes mau menampilkan Yesus di depan umum, sebelum Ia mengemukakan peristiwa penderitaan-Nya, yang akan kita ikuti mulai Minggu depan : Minggu Palma. Apa pesan wajah Yesus itu bagi kita di zaman now? Wajah Yesus yang kita kenal itu bukan menjauhkan diri kita dari pada-Nya.

Justru sebaliknya! Aneka macam tantangan, percobaan, kelemahan, kerapuhan kita justru mencipta suatu kesempatan bagi kita untuk bertemu dan melihat wajah Yesus. Jangan sampai hidup kita tertekan, karena harus memanggul beban hidup kita yang berat. Mengapa? Kita yakin, Yesus adalah bersama kita. Menurut Kitab Ibrani Yesus diselamatkan dari maut dan didengarkan permohonan-Nya “karena kesalehan-Nya” dan karena “telah belajar menjadi taat“.

Dengan doa kita yang disertai ketaatan kita akan kehendak Allah, kita akan didengarkan Tuhan. Kita mengenal Yesus lewat Kitab Suci, khususnya melalui Injil. Injil adalah kesaksian para murid Yesus sebagai saksi dan diabadikan dalam Injil sebagai pegangan bagi semua orang bila mau mengenal Yesus. Di samping kesaksian tertulis dibutuhkan saksi hidup yang tidak tertulis. Kita memiliki seorang saksi di zaman now, yaitu Santo Yohanes Paulus II.

Ia bernama Karol Wojtyla, kini kita kenal sebagai Santo Yohanes Paulus II. Kita mengenal betapa banyak pergulatan dan penderitaan yang harus dialaminya sebagai Pengganti Petrus. Beliau wafat 2 April 2005 pukul 09.38. Dengan mengalaminya sendiri, dalam masa kepemimpinannya meninggalkan pelajaran tidak tertulis bagi kita, bahwa setiap orang, termasuk Paus, Wakil Kristus sendiri, harus menderita! Ia ditembak untuk dibunuh.

Menjelang masa akhir penggembalaannya, kekuatan badannya yang memungkinkannya mengunjungi umat ke pelbagai penjuru dunia sangat menurun, tangannya yang mampu menulis begitu banyak Ensiklik, Anjuran Apostolik, dll, begitu juga suara pewartaannya yang kuat tidak dapat terdengar lagi; namun semua itu tidak membuatnya ragu atau tergoncang hatinya. Banyak suara di dunia ini mengatakan, pewartaan terkuat dari Paus Yohanes Paulus II, yang kini diakui resmi sebagai Santo oleh Gereja, adalah justru dirasakan dunia ini ketika kekuatan suara, tulisan dan kegiatan aktif karyanya sudah tidak mungkin lagi.

Penderitaan yang dialami Paus Yohanes Paulus II dalam menghayati tugas penggembalaannya merupakan bukti beliau sungguh mengenal wajah Yesus yang benar. Dengan mengenal wajah Yesus yang menderita, beberapa jam sebelum wafatnya Paus Yohanes Paulus II berkata : “Biarlah Aku pulang ke rumah Bapa“. Melalui penderitaan dan kematiannya, Imam suci, Wakil Kristus dan Abdi Allah ini telah menebus kita.

Yesus memperlihatkan wajah-Nya yang sebenarnya. Kita ditebus dengan perbuatan-Nya yang baik, tetapi juga dengan penderitaan dan wafat-Nya. Itulah wajah Yesus yang sebenarnya! Selamat menyongsong Pekan Suci dengan semangat tobat sejati.

Berkah Dalem

RD. St. M. Sumardiyo Adipranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here