Hari Minggu Biasa XXVII – 6 Oktober 2019

TEMA : “TUHAN, TAMBAHKANLAH IMAN KAMI

Dalam Injil Lukas hari ini (Luk 17:5-10) digambarkan keadaan suatu komunitas orang beriman, bila ada orang berdosa. Karena suasana macam itu sulit (lih: ay.1-4), maka para murid mohon kepada Yesus : “Tuhan, tambahkanlah iman kami!” Hidup di tengah  perubahan dunia dan masyarakat yang begitu cepat, baik yang positif maupun negatif, kita sungguh membutuhkan kepastian iman yang kokoh dan benar.

Dalam menentukan sikap dasar hidup dan perbuatan kita, kita harus selalu sadar bahwa kita ini langsung atau tidak langsung hidup dalam suatu komunitas. Komunitas Keluarga, Biara, Lingkungan, Kelompok Kerja dan Beraneka Komunitas. Dalam kesatuan komunitas itu ada kekhasan, yaitu adanya perbedaan. Ada perbedaan usia, watak, karakter, pandangan, sikap, kata dan perbuatan.

Dalam mengalami hidup berkomunitas itu kita harus sadar, bahwa kita mau tidak mau berhadapan dengan sesama pribadi, namun juga berhadapan dengan Tuhan. Kita saling bertanggung-jawab, baik kepada sesama kita, sekaligus juga kepada Allah. Para murid Yesus sadar akan pengalaman hidup mereka sebagai kenyataan.

Maka mereka mohon : “Tuhan, tambahlah, teguhkanlah iman kami!” Kini kita mengalami hal yang sama. Dalam hidup kita secara pribadi maupun bersama dengan orang lain, kita mohon kepada Tuhan, agar iman kita diteguhkan. Yesus menjawab para murid-Nya dalam perumpamaan tentang kekuatan iman. Iman diumpamakan sebagai biji sawi. Begitu kecil namun memiliki daya begitu besar. Dalam perumpamaan itu Yesus bukan mengatakan, para murid-Nya tidak memiliki iman.

Yesus menghendaki, agar mereka menghayatinya sepenuhnya. Mereka sudah memiliki iman, namun masih kecil atau dangkal. Maka harus diperkuat. Iman yang benar, mendalam dan teguh menentukan nasib hidup rohani kita di hadapan Tuhan! Dalam Injil Hari ini, Yesus masih memberi keterangan tentang hubungan antara tuan dan hamba.

Corak hubungan yang diterangkan Yesus ini jarang terdapat dalam budaya-budaya lain, juga tidak diketemukan di aneka kebudayaan bangsa kita! Isi pokok ajaran Yesus ialah : Kita adalah hanya hamba! Kiranya para rasul masih ingat ajaran Yesus itu dalam mewartakan Kabar Gembira kepada segala bangsa. Para rasul ingat akan nasihat Yesus itu : “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna. Kami hanya melalukan apa yang harus kami lakukan.”

Marilah kita bertanya kepada diri sendiri : Apakah aku ini, baik secara pribadi maupun bersama telah melakukan tugasku seperti seharusnya (sesuai tujuannya? Apakah yang harus kulakukan sekarang ini. Sumber apa dan kekuatan apa yang harus kumiliki dan kupegang teguh? Siapa pun yang diserahi tugas memimpin, secara khusus lagi bagi setiap orang yang bertugas memimpin umat Allah, apapun bentuknya! Apa itu artinya?

Artinya, permohonan penambahan, perkembangan dan penguatan iman jangan sampai menggoda para rasul atau pemimpin apapun, dengan harapan agar dengan tambahan iman akan membawa serta juga tambahan kenaikan kedudukan, sehingga kedudukan sebagai melayani berhenti dan diganti dengan kedudukan dilayani! Ternyata tidak ada tempat atau kesempatan, di mana seorang murid Yesus sejati berkata : “Aku telah melaksanakan tugas pelayananku, maka sekarang ini aku ingin dan minta supaya dilayani.”

Entah di mana pun kita berada dan berkedudukan, seorang hamba harus tetap hamba di depan Tuhan bagi sesama.

Berkah Dalem

RD. St. Sumardiyo Adipranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here