Hari Minggu Biasa XXVI – 29 SEPTEMBER 2019

TEMA : “MARILAH KITA PEDULI TERHADAP SESAMA YANG MISKIN DAN MENDERITA

Kita memasuki Minggu Biasa XXVI. Semenjak dahulu, ternyata ada jurang antara kemewahan dan kemiskinan, nasib baik dan buruk, hiburan dan penderitaan. Keduanya tak mungkin bisa dijembatani. Keduanya tak pernah “berkomunikasi” baik saat hidup di dunia atau dalam kehidupan sesudah kematian. Itulah yang ingin dilukiskan Lukas, dalam kisah Injilnya : “Orang kaya dan Lazarus yang miskin.”

Suatu gambaran strata ekonomi masyarakat sangat dramatis, dari dahulu hingga di jaman now, bahkan mungkin sampai akhir zaman (bdk, Mrk.14:7). Di mana pun orang pasti ingin hidup nyaman, aman, tenteram. Orang pasti ingin hidupnya serba kecukupan, rejeki mengalir terus tanpa henti dan kesehatan pun dinikmati.

Bacaan pertama dan Injil hari ini mewartakan nasib celaka orang-orang kaya, yang hidupnya enak dan berkelimpahan. Akhirnya, bukan kekayaan-nya yang menyebabkan mereka ditimpa nasib celaka. Kitab Amsal menyatakan : “Celakalah orang yang minum anggur dari bokor, dan berurap dengan minyak yang paling baik, tetapi tidak berduka karena hancurnya keturunan Yusuf.”

Lebih seru lagi adalah kisah Injil tentang nasib kontras antara orang kaya yang selalu berpakaian ungu dari kain halus yang sangat mahal, dan yang setiap hari berpesta pora, tetapi sama sekali tidak mau berbelas-kasih dan menolong Lazarus, pengemis atau orang miskin yang dipenuhi borok pada badannya.

Setelah kematian, si orang kaya itu harus masuk ke neraka, sementara Lazarus duduk di pangkuan Abraham, artinya ia hidup dalam kemuliaan surga. Kita merenungkan sikap dan gaya hidup kita. Mungkinkah kita termasuk orang orang kaya atau katakanlah orang bermilik. Namun sama sekali tidak mau peduli dengan orang-orang miskin di sekitar kita?

Paulus menulis surat kepada Timotius dan menekankan pentingnya sikap yang menjauhi kejahatan, mengejar keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Itulah sikap-sikap kita, yang mesti mengiringi gaya hidup dan tingkah laku kita para murid Kristus ini. Penginjil Lukas mau menyadarkan kita, betapa berisiko orang yang acuh tak acuh terhadap sesamanya yang menderita miskin.

Itulah dosa kelalaian, yang ternyata bisa mendatangkan sanksi yang sangat mengerikan. Orang yang sungguh mencintai Allah, dari dalam hatinya akan mengalir sikap belarasa dan emapti untuk memperhatikan penderitaan sesamanya.

Janganlah takut jika anda kaya, melainkan takutlah jika anda mulai terjangkit sikap tidak peduli kepada sesama yang miskin, menderita dan bernasib tidak beruntung.

Berkah Dalem

RD. St. Sumardiyo Adipranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here