Hari Minggu Biasa XXV – 22 SEPTEMBER 2019

TEMA : “AKU BERSYUKUR BOLEH MELAYANI TUHAN DAN SESAMA

Kita memasuki Minggu Biasa XXV. Orang biasa merasa berbangga hati bila banyak orang mencarinya. Kalau yang mencari itu para penagih utang, ya orang jangan bangga. Namun orang pantas berbangga hati bila dicari-cari para pengagum atau mereka mau wawancara dengan dirinya. Bila sesudah wawancara, orang itu difoto, tersenyum dan gembira. Orang itu pun menjadi terkenal.

Kebanggaan atas kesediaan hati seseorang yang terkenal seperti itu tentu berpusat pada kehebatan diri sendiri, dan pengakuan atas pujian atas diri sendiri.
Dalam suratnya Paulus meminta umat yang dilayani tidak hanya mengikuti diri dalam bidang duniawi, tetapi juga mengikuti hidup rohani. Dari hidup rohani itu kita akan dibangun menjadi pribadi baru dalam Kristus. Kita harus berlaku cerdik dan pandai seperti seorang bendahara yang dipuji Yesus.

Kita pengikut Yesus harus bisa cerdik dan pandai mencari akal bagaimana dapat memperoleh keselamatan yang ditawarkan Yesus. Kita tidak hanya mengasingkan diri untuk berdoa saja. Kita harus berani berkomunikasi dengan dunia dan  menjalin relasi kasih dengan sesama. Karena dasarnya, seseorang diterima baik oleh Allah, karena apa yang dilakukan oleh orang itu dan bukan hanya karena imannya. Perbuatan baik itu mengantar kita berdiri teguh dalam Tuhan.

Santo Karolus Boromeus memberikan teladan nyata bagi kita. Dia merelakan hidupnya melayani sesama yang menderita sakit, dengan penuh semangat bela-rasa dan empati. Sudahkah kita melakukan perbuatan baik dan kasih demi memperoleh keselamatan yang ditawarkan Tuhan? Marilah kita menjawab dalam hidup kita dengan perbuatan baik dan pelayanan kasih kepada sesama.
Paulus berbangga boleh melayani Kristus. “Aku boleh menjadi pelayan Kristus, aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah.”

Semangat Paulus melayani Kristus dengan memberitakan Injil bertujuan agar bangsa-bangsa bukan Yahudi diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan di hati-Nya dan disucikan oleh Roh Kudus. Kepada kita diserahkan karya pelayanan tertentu. Tentu kita senang bila saat pelayanan kita dipuji, karena berhasil dalam karya dan berkembang dalam pelayanan di kebun anggur-Nya.

Namun kita mesti hati-hati, sebab pujian itu bisa mengaburkan panggilan dasar kita, bahwa kita sebenarnya hanya melayani Kristus, dan bukan diri sendiri. Yang membuat kita bahagia dan bangga mestinya karena semakin banyak orang mengenal Tuhan dan mengalami kasih-Nya.

Berkah Dalem

RD. St. Sumardiyo Adipranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here