Hari Minggu Biasa XX – 19 Agustus 2018

Tema : “Ekaristi Adalah Lambang Kenyataan Diri Yesus Sebagai Sumber Hidup Kita

Beberapa Minggu terakhir ini kita diajak merenungkan Injil Yohanes Bab 6, yang berturut-turut berkisah mengenai “roti yang diperlukan manusia” untuk perjalanan hidupnya. Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan bahwa Ia bukan hanya dapat mengadakan mukjizat roti biasa untuk 5000 orang, melainkan Yesus memberikan Tubuh dan Darah-Nya sendiri sebagai santapan rohani, yang dapat memperteguh mereka dalam perjalanan menuju hidup kekal. Kita diajak memperdalam makna Tubuh dan Darah-Nya sebagai santapan rohani.

Inilah yang dialami bangsa Israel dalam Perjanjian Lama, pada waktu mereka harus mengadakan perjalanan melalui padang pasir. Mereka merasa lapar dan haus, tetapi Allah memberi “manna“, roti untuk memperkuat perjalanan mereka. Inilah pula dalam Perjanjian Baru yang dihadapi Yesus, seperti digambarkan Yohanes dalam Injilnya. Umat Allah telah diberi makan guna memenuhi kebutuhan dalam perjalanan mereka yang mengikuti Yesus.

Yesus mau menunjukkan kepada mereka, bahwa bukan hanya makanan dan minuman biasa yang mereka perlukan, melainkan makanan dan minuman rohani. Untuk memenuhi kehausan dan kelaparan abadi yang ada di dalam diri manusia itulah Yesus menampilkan diri sebagai “roti dari surga“.

Yesus diutus Bapa untuk tinggal di antara kita dalam hidup sekarang ini, tetapi bukan hanya untuk memberi kekuatan jasmani dengan makanan sementara, melainkan juga makanan untuk memperoleh sumber hidup yang tak pernah kering. Dan bagi kita itu terwujud dalam penerimaan Ekaristi.

Sakramen ekaristi adalah intisari penghayatan iman kita yang sebenarnya. Ekaristi adalah lambang kenyataan diri Yesus sebagai sumber hidup sejati kita. Yesus mengundang kita dalam perayaan Ekaristi untuk menerima diri-Nya sebagai Tubuh dan Darah-Nya. Artinya kita sungguh menerima Pribadi-Nya. Yesus memberikan Tubuh dan Darah-Nya demi keselamatan kita.

Yesus hadir bagi dan di tengah kita dalam perjamuan Ekaristi, sebagai sumber hidup kita yang tak akan kering. Dalam misa kudus lewat perantaraan Imam, Yesus sendiri hadir untuk mempersembahkan korban kepada Allah Bapa; sekaligus korban yang dipersembahkan kepada Allah, untuk dibagikan kepada umat-Nya: Tubuh dan Darah-Nya. Kristus yang satu dan utuh itu diberikan kepada kita. Kita yang banyak disatukan, menjadi satu dengan Kristus dan dengan kita sekalian.

Bila kita sungguh percaya, menerima Ekaristi berarti menerima Yesus sendiri, maka kita juga bersatu, menjadi satu dengan Dia. Yesus sungguh menjadi sumber hidup kita. Artinya : hidup kita harus merupakan hidup Yesus sendiri. Segenap sikap, hidup, kata dan perbuatan kita harus kita usahakan sebagai ungkapan sikap, hidup, kata dan perbuatan Yesus sendiri. Bersatu dengan Yesus berarti bersatu pula dengan sesama kita siapapun, yang juga menerimanya, apa adanya.

Berkah Dalem

RD. St. M. Sumardiyo Adipranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here