Hari Minggu Biasa VII – 23 Februari 2020

Tema : “BANGUNLAH PERSAHABATAN DENGAN CARA HIDUP BAIK DAN MENGHARGAI SESAMA

Kita memasuki Minggu Biasa ke 7. Injil Yesus hari ini mengajarkan, agar kita jangan bersikap pasif atau mengalah dalam menghadapi bahaya fisik. Yesus berkata: “Kamu telah mendengar bahwa dulu ada ungkapan : Mata ganti mata, gigi ganti gigi“.

Tetapi Aku berkata kepadamu : “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu” (Mat 5:38-39). Dengan bahasa kiasan Ia menambahkan, apabila kamu ditampar pipi kananmu, berikan juga pipi kirimu. Dan bila bajumu yang diminta, serahkanlah jubahmu juga.”.

Yesus menambahkan : “Berikanlah kepada orang apa yang dimintanya, dan jangan menolak orang yang yang mau meminjam sesuatu dari padamu” (Mat 5:42). Apa yang dikatakan Yesus tersebut adalah suatu ajaran, yang mau menyingkirkan secara radikal pembalasan dendam, yang harus dilakukan oleh para murid-Nya dalam kehidupan mereka.

Di sini Yesus mau menuntun proses atau perkembangan para murid-Nya setapak demi setapak menuju kepada hidup kristiani sejati. Dengan kata-kata-Nya (Mat 5:43-45) itu Yesus menafsirkan atau memberikan arti yang otentik atau benar tentang perintah Allah. Landasan perintah Allah tentang hubungan manusia antar sesama seperti yang diterangkan Yesus adalah kasih. Allah mengasihi semua orang.

Karena itulah pada akhir khotbah-Nya tentang hubungan yang benar setiap orang satu sama lain, Yesus menegaskan : “Kamu harus sempurna, sebagaimana Bapamu yang di surga sempurna adanya” (Mat 5:48). Dengan demikian Yesus menuntut murid-murid-Nya memiliki dan menghayati kasih yang sempurna.

Intisari hukum baru yang diajarkan dan diberikan Yesus kepada kita ialah kasih. Kasih inilah yang merupakan kekuatan, yang akan mampu menolong dan menjiwai kita untuk mengatasi masalah kita sebagai manusia sejak dahulu, yakni masalah pertentangan antara teman dan musuh, antara saudara dan lawan.

Inilah yang diteguhkan Yesus : “Kamu harus sempurna, sebagaimana Bapamu yang di surga sempurna adanya.” Artinya, kita adalah sempurna bila kita mengasihi Allah, sekaligus mengasihi sesama kita. Menjadi sempurna berarti mau mengasihi. Orang yang mengasihi, itulah orang yang suci. Menjadi suci menurut Paulus (Bac.II) berarti menyadari diri dan menghayati diri sebagai bait Allah.

Kamu adalah milik Kristus, dan Kristus adalah milik Allah.” Kita adalah milik Kristus, dan dalam Kristus kita adalah milik Allah. Kita adalah sungguh milik Kristus dan milik Allah, apabila kita memiliki dan menghayati kasih kita kepada Allah dan sesama kita, seperti diajarkan dan dilakukan oleh Yesus.

Beragama dan beriman hanya benar bila dibarengi sikap mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri.

BERKAH DALEM

RD St. Sumardiyo Adipranoto