Hari Minggu Biasa VI – 16 Februari 2020

Tema : “SINGKIRKAN HAL YANG MENGHILANGKAN KITA UNTUK DEKAT DENGAN TUHAN

Kita memasuki minggu biasa ke 6. Dalam Injil Yesus secara tegas berkata : “Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17). Namun bisa dipahami ajaran Yesus memang keras terhadap pembunuhan, zinah, sumpah, tetapi lunak terhadap arti Sabat.

Ia menekankan berlakunya hukum ganda kasih kepada Allah (Ul 6:5) dan kepada sesama (Im 19:18), sebab “seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:34-50) tergantung dari padanya. Sebagai “Musa Baru” sambil menggunakan Taurat, Yesus mengajarkan kehendak Allah menurut hukum yang sebenarnya.

Dengan demikian tampaklah, Yesus membenarkan adanya hukum dan kewajiban untuk melakukannya; sekaligus Ia menyingkirkan kemunafikan para ahli kitab dan kaum Farisi dalam pengertian dan pelaksanaan Taurat Musa. Hukum Allah harus dipahami dan dilaksanakan dengan semangat dan injili, artinya dengan kasih dan ketulusan hati.

Sebagai contoh perluasan dan pendalaman Hukum Musa : kita harus menghilangkan rasa dendam, pembalasan atau niat jahat. Bila taat akan Hukum Musa untuk tidak membunuh, dan bila membunuh harus dihukum, Yesus masih menambahkan : “Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum” (ay. 21-22).

Mengapa? Demi kasih! Dengan bahasa kita sekarang ini Yesus seakan mau berkata: Kalau kamu pergi ke gereja untuk ibadat dan mau memberi derma (kolekte), tetapi “engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau“, jangan berangkat dan “pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu“, “lalu baru pergilah untuk beribadat” (lih. Ay.23-24). Hanya orang yang memiliki kasih sejati akan mampu menganggap semua orang sama martabatnya seperti diri sendiri!

Kasih adalah penyatu, sekaligus pemulih kembali bila kesatuan itu retak! Doa atau korban kepada Tuhan adalah palsu bila disertai kebencian. Yesus mengajarkan, agar kita jangan bersifat saling curiga, yaitu dengan berpegang teguh pada kesatuan dan kesamaan dasariah antara kata dan perbuatan. Hukum Lama diberikan Allah sesuai janji-Nya untuk menyelamatkan umat-Nya.

Hukum Lama itu disempurnakan oleh Yesus. Allah dalam Perjanjian Lama sama dengan Allah dalam Perjanjian Baru. Allah yang satu dan sama itu menampakkan diri-Nya sebagai Bapak, Putera dan Roh Kudus! Yesus Kristus, Putera Allah inilah yang bersama Roh Kudus memberi arti Hukum Allah yang sebenarnya, dan memberi ajaran dan teladan bagaimana melaksanakannya.

Kesimpulan kita : taat akan hukum dan hidup secara kristiani sejati berarti mengikuti Yesus, melihat Yesus sebagai teladan dan menempuh jalan hidup yang selalu disinari dengan cahaya Yesus.

BERKAH DALEM

RD St. Sumardiyo Adipranoto