HARI MINGGU BIASA KE XXXII – 11 NOVEMBER 2018

TEMA : “MARILAH KITA MEMBANGUN BUDAYA BELA RASA

Bacaan Suci Hari Minggu Biasa ke 32 ini mengantar kita untuk mendalami makna bermurah-hati dalam berbagi dengan sesama atau berbela-rasa. Bacaan pertama menghadirkan kisah tentang seorang janda di Sarfat. Waktu itu nabi Elia melakukan sebuah perjalanan ke daerah Sarfat.

Di sana ia bertemu dengan seorang janda. Nabi Elia meminta air untuk minum dan disuguhkan janda itu. Elia lalu meminta roti. Janda itu berkeberatan karena yang ada padanya hanya segenggam tepung dalam tempayan dan minyak dalam buli-buli. Janda itu mengatakan, “ia sedang mengumpulkan kayu api untuk membuat roti dan makan bersama anaknya setelah itu mereka mati karena tidak punya persediaan makanan lagi.”

Sebagai utusan Tuhan, Elia meyakinkan janda itu dan terjadilah mukjizat. Janda dan anaknya serta Elia bertahan hidup dengan tepung dan minyak persediaan yang ada. Seorang tokoh umat menjelaskan makna memberi kolekte dalam Misa atau perayaan Ekaristi. Ia menjelaskan, “Kolekte itu dari umat, oleh umat dan untuk umat. Tidak pernah kolekte untuk pastor.”

Semua kolekte itu dikumpulkan dari umat dipergunakan guna pertumbuhan dan perkembangan iman umat serta solidaritas umat Allah dalam Gereja Lokal (Keuskupan) dan Gereja Universal. Kolekte adalah kesempatan, umat Allah membangun semangat saling berbagi sebagai umat Allah. Di antara umat yang mendengar penjelasan tokoh umat ini, bertanya dari mana pastor itu bisa mencukupi hidupnya? Tokoh umat itu menjawab, “Pastor hidup dari pelayanannya.”

Ia menerima stipendium (stip) dan iura stole. Dari pelayanan ini ia menghidupi dirinya. Maka tidak usah bertanya lagi, “bila Pastor Misa di Stasi, Lingkungan atau Komunitas Kategorial, apa kita mesti memberi stip?” (Jawabnya jelas!). Setelah mendengar penjelasan tokoh umat ini, umat dalam gereja itu mengangguk dan berkata, “Oh begitu….. Kita pikir kolekte kita kumpulkan untuk pastornya.”
Umat kadang berpikir, kolekte demi kolekte hari Minggu dan hari Raya serta Misa di lingkungan itu untuk pastornya.

Maka, ketika relasi dengan pastornya kurang baik, maka umat sulit memberi kolekte atau derma kepada Gereja. Padahal kolekte adalah satu sarana berbagi atau sarana untuk membangun semangat bela rasa dengan sesama. Umat kadang berpikir, ia memberi kolekte karena memiliki uang yang lebih. Ini hal yang keliru dalam hidup menggereja. Seharusnya umat menyadari, ia memberi dari yang ia miliki sebagai kolekte atau derma.

Artinya kalau memberi kolekte umat perlu merasa bahwa ia sedang bermurah hati terhadap sesama dan tidak takut miskin atau banyak perhitungan. Umat mestinya berpikir, Tuhan akan mencukupi kebutuhan umat-Nya. Hari ini hukum kasih mau dikonkretkan dalam hidup setiap pribadi. Dalam Injil Yesus mengambil contoh orang kaya yang memberi kolekte dari kelebihan uangnya dan seorang janda miskin yang kisahnya mirip dengan kisah janda di Sarfat dalam bacaan pertama.

Janda miskin ini memiliki sikap lepas bebas, tidak terikat pada uang yang dimiliki yang jumlahnya juga sangat sedikit. Janda ini juga bersikap murah hati. Orang-orang kaya yang datang ke rumah ibadat memberi dari kelebihan mereka. Janda miskin memberi “segala” yang ia miliki dan ia hanya berharap hanya kepada Allah. Bacaan suci hari ini mengundang kita untuk berbela-rasa dan bermurah hati dalam memberi.

Tuhan telah memberi kepada kita bakat dan kemampuan dengan cuma-cuma, maka berikanlah juga dengan cuma-cuma kepada Tuhan dan sesama. Prinsip “memberi dari kelebihan” berubah menjadi memberi segala yang dimiliki untuk Tuhan. Tentu memberi bukan hanya dalam arti material tetapi juga waktu dan bakat untuk Tuhan dan sesama. Tidak mudah di jaman ini mendapatkan orang untuk menjadi pengurus Gereja (DPP, DKP), atau pengurus/petugas parkir saat Misa.

Marilah kita mengambil semangat janda dalam bacaan pertama dan janda dalam Injil untuk melayani Tuhan dan sesama. “Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita” (Kol 3:17).

Berkah Dalem

RD. St. Sumardiyo Adipranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here