HARI MINGGU BIASA KE XXXI – 5 NOVEMBER 2017

TEMA : “PEMBACA INJIL MATIUS DAHULU DAN SEKARANG

Kita memasuki Minggu Biasa Ke 31. Injil Matius bertumbuh di kalangan orang-orang Yahudi yang menjadi pengikut para rasul. Orang-orang itu memiliki latar pendidikan Taurat yang kuat dan berusaha hidup menurut ajaran agama. Memang ada yang jadi bersikap legalistis. Injil hari ini sebenarnya berbicara mengenai orang-orang seperti ini walau penyampaiannya berlatarbelakang kecaman Yesus terhadap para ahli Taurat dan kaum Farisi.

Pembaca dari zaman dahulu melihat masa lampau mereka sendiri secara kritis. Dengan halus mereka hendak menyampaikan kepada rekan-rekan mereka agar tidak lagi mengikuti cara lama itu. Mereka mau menyadari sisi mana dari cara hidup mereka tidak bisa lagi memberi inspirasi dan tidak bisa menjawab tantangan zaman.

Mereka mau menimba kebijaksanaan dari ingatan para guru mereka yang masih mengenal Yesus ketika mengajar di Yerusalem dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh di sana. Inilah yang ditampilkan Matius. Tentunya pembaca dari zaman sekarang tidak hanya berminat pada keadaan dahulu.

Kita ingin memakai Injil sebagai inspirasi hidup di zaman ini. Sebenarnya kuncinya terdapat di dalam Injil Matius sendiri. Seluruh pengajaran Yesus menjelang akhir hidupnya dalam Matius 23 ditampilkan Matius sebagai gema atau padanan pengajarannya ketika ia mulai tampil, yakni ketika ia mengajar “orang banyak dan murid-muridnya di sebuah bukit” (Mat 5:1 dan 5:17-7:29).

Ada gambaran mengenai keadaan yang bakal terjadi bila pengajaran di bukit dan Sabda Bahagia tidak dihayati. Mereka yang merasa wajib menegakkan hukum agama malah akan menindas kehidupan agama sendiri! Ini kendala hidup beragama yang tidak sampai pada inti sikap beragama sendiri. Malah bisa memburuk.

Injil Matius mau membawa pembaca kembali ke inti kehidupan orang yang percaya, yakni ke pokok pewartaan Yesus. Ia “mengajak orang menyongsong masa depan di dalam Kerajaan Surga agar menemukan kembali manusia yang utuh.” Di situlah kemerdekaan manusia dan kebijaksanaan menghayatinya menjadi pusat perhatian.

Berkah Dalem

RD. St.M. Sumardiyo Adipranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here