HARI MINGGU BIASA KE XXXI – 4 NOVEMBER 2018

CINTA DAN KOMITMEN

Berbicara tentang cinta selalu menarik dan melahirkan semangat antusiasme bagi semua insan yang serius mencari makna hidup di dunia ini. Yesus pun sepanjang hidup-Nya di dunia kerapkali berbicara tentang cinta. “Nada dasar” dari
hidup dan pewartaan-Nya adalah CINTA KASIH. Kristus adalah kasih Bapa yang nyata dan konkret bagi umat manusia. Maka, seluruh hidup Yesus adalah perwujudan dari wajah Allah yang adalah kasih (bdk. 1 Yoh.4: 8.16).

Melalui hidup dan pewartaan-Nya, Yesus hendak membongkar dan memperbaiki pandangan manusia yang kerap kali keliru dan sesat soal memahami siapa Allah itu. Yesus secara jelas dan gamblang hendak menunjukkan kepada kita bahwa Allah kita bukanlah Allah yang keras, kejam, suka mengadili dan menghukum. Allah kita adalah Allah yang penuh belas kasih dan pengampunan.

Dialah asal dan sumber cinta dan sepanjang waktu cinta-Nya penuh dan tak bersyarat kepada kita. Maka, benarlah ungkapan yang mengatakan, “Di mana ada cinta, di situ Allah berada.” Cinta yang sejati selalu ditampakkan dengan komitmen yang kuat untuk mempraktikkan dan menunjukkan cinta itu. Yesus hari ini memberi inspirasi kepada kita tentang arti dan makna mencintai secara sungguh-sungguh.

Pertama-tama kita diajarkan untuk mencintai Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan dengan segenap kekuatan kita. Itu berarti kita pertama-tama harus lebih dulu menomorsatukan Tuhan dalam hidup ini. Mencintai-Nya dengan totalitas hidup kita. Mengapa kita diarahkan untuk pertama-tama mencintai Tuhan Allah lebih dahulu (lih. Mrk. 12: 29-30)? Jawabnya sederhana tetapi sangat prinsipiil : Tuhan telah lebih dahulu menunjukkan cinta-Nya (bdk. 1 Yoh. 4: 19).

Kita diberi anugerah dan kesempatan hidup, segala yang ada di alam semesta ini. Dia persiapkan untuk kelancaran dan kemudahan hidup kita, Dia pulihkan relasi kita yang rusak dengan-Nya melalui Yesus Putra-Nya. Inilah cinta Allah yang
penuh komitmen yang Dia tunjukkan kepada kita. Maka, wajar jika kita pertama-tama membalas cinta Allah yang begitu besar dengan kembali sungguh-sungguh memberikan cinta kita kepada-Nya.

Mencintai itu perlu komitmen kuat dan kesungguhan untuk mewujudkan dan mempraktikannya. Maka, mencintai itu butuh pengorbanan. Ukuran dari mencintai adalah pengorbanan yang kita beri kita mewujudkan cinta itu. Seberapa besar pengorbanan kita, maka sebesar itulah cinta kita. Mencintai Tuhan dengan segenap totalitas hidup kita ini menunjukkan bahwa seluruh hidup kita beri dan kita pertaruhkan untuk Tuhan-Sang Cinta, dasar dan tujuan hidup kita.

Mencintai Tuhan secara sungguh-sungguh memiliki konsekuensi logis dengan sendirinya mendorong kita untuk mencintai sesama manusia dengan sungguh-sungguh. Cinta kepada Tuhan harus dinyatakan dengan mempraktikkan hidup dalam kasih dengan sesama kita. Adalah hal yang mustahil dan cenderung omong kosong jikalau kita katakan, kita mencintai Tuhan tetapi kita tidak mampu berelasi dan berbuat kasih kepada sesama.

Justru malah kasih dan perbuatan kita kepada sesama adalah tolok ukur yang kuat dan benar untuk mengukur sejauh mana relasi dan cinta kita kepada Tuhan. Karena itu, mencintai Tuhan dan mencintai sesama adalah bagaikan dua sisi mata uang logam yang sama. Meski berbeda, tetapi menjadi satu kesatuan. Karena kita memiliki cinta yang sejati kepada Tuhan dan sesama, maka kita bisa juga pastikan bahwa kita akan memiliki relasi yang sangat sehat dalam diri kita sendiri.

Kita akan mampu memandang diri kita secara objektif dan mencintai diri kita sendiri hidup bersama dalam suasana yang membahagiakan dan mempesona. Mari kita membina terus menerus cinta yang sejati dan tulus dalam keseharian hidup kita agar cinta diri yang benar, cinta sesama dan cinta pada Tuhan menghantar kita kepada kebahagiaan yang sejati.

BERKAH DALEM

RD. St. M. Sumardiyo Adipranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here