HARI MINGGU BIASA KE XXVII – 7 OKTOBER 2018
TEMA : “BETAPA LUHURNYA SEBUAH PERKAWINAN

Orang Farisi mencobai Yesus dengan bertanya: “Bolehkah seorang suami menceraikan isterinya?” Yesus balik bertanya : “Apa perintah Musa kepadamu?” Jawab mereka: “Musa memberi izin menceraikan istrinya dengan membuat surat
cerai.” Tanggapan Yesus : “Karena ketegaran hatimulah Musa menulis perintah itu untukmu.” Sejak awal Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling bersatu menjadi satu daging. Jadi keduanya harus sungguh bersatu.

Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah janganlah diceraikan manusia.”
Dalam Injil hari ini Yesus menunjukkan kepada kita hubungan yang baik antara laki-laki dan perempuan sebagai suami dan isteri. Pertanyaan mereka kepada Yesus : “apakah suami boleh menceraikan isterinya” memiliki latar belakang jahat. Pertanyaan mereka menunjukkan adanya diskriminasi antara laki-laki dan perempuan.

Mengapa mereka tidak juga bertanya apakah isteri boleh menceraikan suaminya? Menunjukkan tidak adanya kesetaraan pribadi sebagai manusia, antara laki-laki dan perempuan. Ada dominasi laki-laki menyampingkan martabat dan kedudukan
perempuan. Makanya kaum Farisi tidak bertanya: Bolehkah isteri menceraikan suaminya?

Musa menunjukkan jalan kehidupan moral yang harus ditempuh orang Yahudi, tetapi tidak sepenuhnya. Ia mengizinkan laki-laki mengadakan perceraian, tetapi dengan surat cerai, karena hati orang laki-laki keras dan tegar. Yesus menunjukkan jalan yang benar, yang harus ditempuh setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan. Yesus menunjukkan penilaian Allah yang sama terhadap martabat laki-laki maupun perempuan.

Yesus menciptakan manusia, laki-laki ataupun perempuan menurut citra-Nya. Maka keduanya semartabat, keduanya setara. Hak dan kewajiban mereka untuk saling menghormati itu sama. Karena itu, Yesus tidak membenarkan adanya hak
penceraian, baik dari pihak laki-lai maupun perempuan. Bukan sepihak!

Ajaran Gereja tentang perceraian menurut Injil Markus itu dilengkapi Injil Matius : “Jika demikian halnya hubungan suami dan isteri, lebih baik jangan kawin” (Mat 19:10). Demikian reaksi orang-orang, yang ingin tetap mempertahankan dominasi laki-laki atas perempuan, yang dianggap ada di bawahnya. Sikap mereka : lebih baik tidak kawin daripada tidak mempunyai hak dan tidak mampu menceraikan isterinya, yakni bila tidak suka lagi dengan isterinya.

Yesus memperdalam lagi ajaran-Nya tentang pernikahan. Ia berkata, hanya ada tiga keadaan orang tidak boleh kawin. Ia bersabda : “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.” Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir kemudian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga.

Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti” (Mat 19:11-12). Refleksi : Dalam hidup pribadiku : bagaimana aku menghayati relasiku sebagai laki-laki dan perempuan? Dalam hidupku dalam keluarga dan dalam komunitasku, bagaimana penghayatan pergaulanku antar laki-laki-perempuan?

BERKAH DALEM

RD. St. M. Sumardiyo Adipranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here