HARI MINGGU BIASA KE XXIII – 9 SEPTEMBER 2018

TEMA : “ALLAH MENJADIKAN SEGALA-GALANYA BAIK!

Hari ini kita memasuki hari Minggu Biasa ke XXIII. Tema misa hari ini adalah “Ia menjadikan segala sesuatu baik.” Tema ini mengundang kita untuk merenungkan pikiran Allah yang terungkap dalam kisah penciptaan dunia dan isinya. Setiap kali Allah menyelesaikan satu ciptaan, selalu ada ungkapan, “Allah melihat semuanya baik” (Kej 1:4.10.12.18.21.25.31).

Ungkapan yang kiranya terbaik adalah, “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik” (Kej. 1: 31). Semua yang dikatakan Allah melalui nabi Yesaya dan disempurnakan oleh Yesus. Dalam bacaan Injil hari ini (Mrk. 7: 31-37), Markus mengisahkan, Yesus meninggalkan daerah orang kafir, yaitu Tirus dan Sidon dan masuk Galilea.

Secara geografis kita langsung memahami rencana Allah, bahwa keselamatan itu ditawarkan secara universal, kepada semua bangsa. Jadi, baik orang di luar komunitas Yahudi maupun di dalamnya, Allah memiliki kuasa menyelamatkan. Secara geografis dapat juga dikatakan, bahwa keselamatan itu seperti peralihan dari hidup dalam derita kepada kebahagiaan.

Di bacaan pertama (Yes. 35: 4-7a) kita menemukan keselamatan itu sebagai peralihan dari Babel ke Sion, di bacaan Injil dari Tirus dan Sidon ke Galilea.
Ada dua hal patut kita renungkan bersama. Pertama, Yesus menghendaki sebuah relasi yang mendalam dan sifatnya pribadi. Orang yang sakit ini kelihatan pasif, diantar orang kepada Yesus. Yesus menyembuhkannya ketika mereka berdua sendirian. Artinya relasi pribadi dengan Yesus harus betul-betul ada.

Kedua, apa yang dilakukan Yesus terhadap si sakit, seperti perjalanan seorang katekumen sampai menerima Sakramen Pembaptisan. Ia diantar orang banyak (umat) untuk bertemu dengan Yesus. Ketika dibaptis orang secara pribadi juga telinganya dibuka dan mulutnya pun dibuka. Untuk apa? Untuk mendengarkan Sabda Yesus dan mewartakannya. Tugas orang yang telah dibaptis adalah “mendengar Yesus dan mewartakan Sabda-Nya“.

Apa tugas lain dari orang yang telah dibaptis atau orang yang diselamatkan Yesus? Santo Yakobus dalam bacaan kedua (Yak. 2: 1-5) merumuskan tugas-tugas yang kiranya kita lakukan. Pertama, Iman dihayati dalam cinta kasih persaudaraan. Jadi iman itu jangan dihayati dengan memilah-memilih atau memandang muka. Misal, orang kaya diprioritaskan sedangkan orang miskin disingkirkan.

Di mata Tuhan semua orang sama maka iman dihayati dalam cinta kasih kepada semua orang tanpa memandang siapakah orang itu. Kedua, keberpihakan Allah pada kaum papa dan miskin. Orang yang dibaptis memiliki satu tugas mulia, melayani kaum papa dan miskin. Gereja purba menghayatinya dalam semangat sehati dan sejiwa (lih. Kis. 2: 46; Rom.12: 16; 1Kor.1: 10; 2Kor.13: 11). Kalau di dalam komunitas mereka bisa sehati dan sejiwa, maka mereka juga akan mampu keluar dan melayani kaum papa dan miskin.

Berkah Dalem

RD. St. M. Sumardiyo Adipranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here