HARI MINGGU BIASA KE XVIII – 5 AGUSTUS 2018

Tema : “Yesus adalah Wajah Allah dan Roti Hidup Yang Turun dari Sorga

Dalam Injil Minggu Biasa XVIII ini (Yoh 6:24-35), disebutkan bagaimana orang banyak yang telah mendapatkan makan dari Yesus (Injil Minggu lalu, Yoh 6:1-15) mencarinya di Kapernaum. Mereka menemukan Yesus di pantai seberang. Seperti dikisahkan di akhir Injil Minggu lalu, mereka adalah orang-orang yang ingin menjadikannya raja, tetapi Yesus menyingkir dari mereka.

Pernahkah Saudara merasa takut melihat wajah seseorang yang wajahnya menyeramkan? Orang itu sudah berjenggot, matanya merah, bibirnya sinis dan kejam. Tanpa kenal dan tanpa bicara pun, kita cenderung akan menghindarinya. Berbeda kisahnya, bila Saudara berjumpa dengan seorang tua yang lembut wajahnya, gembira dan ramah, bahkan terasa adanya cahaya suci yang bersinar dari orang itu. Kita tentu akan merasa tenang, damai dan aman di dekatnya.

Bacaan Injil mengisahkan orang Yahudi yang datang kepada Yesus karena menantikan lagi roti. Namun Yesus mengarahkan pengertian dan maksud lebih mendalam, roti yang benar adalah Diri-Nya sendiri. Yesus menuntut iman orang Yahudi kepada-Nya, sebagai utusan Allah. Namun, mereka tetap ragu dan menuntut bukti.

Kita pun kadang seperti orang Yahudi menantikan jawaban yang tetap pada setiap keadaan yang dialami dan membaca sejarah untuk memahami apa yang sebenarnya diinginkan Tuhan. Ajakan Yesus sering bertentangan dengan kompromi manusia. Akulah roti, Siapa yang datang padanya-Nya tidak akan lapar lagi, siapa yang percaya pada-Nya tidak akan haus lagi. Salah satu bentuk penyertaan Yesus yang nyata kita alami melalui Perjamuan Ekaristi Kudus. Dalam Ekaristi, Tuhan Kristus sungguh hadir.

Kehadiran Tuhan sungguh dapat kita rasakan lewat Tubuh dan Darah-Nya, yang kita terima. Inilah yang menjadi kekuatan bagi kita untuk mengerjakan tugas kita sehari-hari. Santa Bunda Teresa setiap kali keluar dari kapel setelah mengambil bagian dalam Perayaan Ekaristi menasehati para susternya : “Ingatlah Yesus yang baru saja kita terima, Yesus yang sama itulah yang akan kita layani dalam diri kaum miskin dan sakit.”

Dengan demikian, Roti itu adalah Roti yang memberi hidup, cinta, kekuatan, ketekunan dan pengampunan. Setiap kita sebagai murid Kristus sebenarnya telah diberi karunia Roh Kudus. Sayangnya, yang tidak selalu kita upayakan adalah memberi ruang gerak yang luas dan bebas pada Roh Kudus dalam diri kita.

Padahal bila kita bersatu dengan Roh Kudus, melalui Doa, Ekaristi, Adorasi, Sakramen Tobat, dsb, kita secara tidak sadar akan dipenuhi hikmat dan karunia Roh yang berlimpah, keberanian untuk bersaksi dan berkorban demi iman, dan aura wajah kita pun akan bercahaya sebagai orang-orang yang memberi kedamaian, kenyamanan dan ketenangan di sekitar hidup kita.

Berkah Dalem

RD. St. M. Sumardiyo Adipranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here