HARI MINGGU BIASA KE XVI – 28 JULI 2019

TEMA : “TUHAN AJARLAH KAMI BERDOA

Kita memasuki Minggu Biasa ke XVII. Bacaan Suci hari ini diungkapkan, Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa,
berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya : “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya” (ay.1).

Setiap kali kita mengalami hal yang tidak kita inginkan kita berdoa kepada Tuhan, mohon kekuatan untuk menghadapi masalah yang kita alami. Berdoa itu suatu
cara kita berkomunikasi dengan Tuhan. Melalui doa, kita bersyukur dan memuji nama Tuhan, kita juga memanjatkan permohonan kita. Satu Pertanyaan yang
timbul saat kita berdoa : Apakah doa kita sudah benar? Sebab berdoa itu merupakan suatu langkah sederhana, namun memiliki dampak besar.

Kendati demikian, tidak sedikit orang Kristen mengabaikan hal ini, tidak sedikit umat beriman yang pesimis terhadap doanya, sehingga enggan atau males berdoa lagi. Yesus menanggapi permintaan para murid, agar diajarkan berdoa, dan Yesus mengungkapkan “Doa Bapa Kami“. Melaluinya, kita belajar isi dan unsur mendasar dari doa yang benar. Pertama, doa berisikan pujian kepada Allah (ay 2).

Hal yang sering diabaikan (mungkin tidak diketahui) oleh kita, yaitu memberikan pujian kepada Allah melalui doa kita. Sering doa kita itu hanya dipahami sebagai ungkapan keluhan hati semata, atau sebagai sarana untuk menyampaikan daftar pergumulan dan harapan dan keinginan kita. Ungkapan pujian dan syukur dalam doa hendak menunjukkan kesadaran kita akan “Siapa Tuhan, siapa kita” ini.

Kedua, doa berisi permohonan (ay 3). “Berikanlah kami… yang secukupnya.” Tuhan mengajar kita, agar meminta kepada-Nya sesuai dengan kebutuhan, bukan
untuk dihambur-hamburkan. Ia menjamin bahwa ketika kita meminta maka Ia akan memberikan sesuai kehendak-Nya (ay 9-10). Ketiga, doa juga berisikan ungkapan tobat (ay 4). Dalam doa kita mengakui pelanggaran dan dosa kita,
tanpa perantara dan langsung kepada Allah.

Bagian ini menuntut keberanian, kejujuran dan keterbukaan hati kita kepada Tuhan, sehingga dengan begitu Tuhan akan mengalirkan kasih dan pengampunan-Nya kepada kita. Keempat, berdoalah seolah kita sedang berbicara pada seorang sahabat (ay 5-8). Tanpa mengurangi penghormatan kita kepada Allah, Tuhan mengajar kita berdoa seperti sedang berdialog dengan sahabat kita, ada kedekatan, keakraban dan tanpa kecanggungan. Kelima, berdoa seperti seorang anak kepada bapaknya (ay. 11-13).

Hubungan itu tentu memiliki ikatan emosional yang tinggi. Seorang bapak pasti
berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya. Demikian pula dengan Allah Bapa tentu juga akan memberikan yang terbaik bagi anak-anak-Nya.
Marilah berdoa dengan mendasarkan pada teladan doa yang diajarkan Yesus sendiri!

Berkah Dalem

RD. St. Sumardiyo Adipranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here