HARI MINGGU BIASA KE XVI – 22 JULI 2018

TEMA : “TUHAN YESUS ADALAH GEMBALA YANG BAIK

Dalam Bacaan pertama, Nabi Yeremia menegaskan, setiap orang yang berfungsi sebagai gembala harus mengemban amanat dan melaksanakan tugasnya. Dalam Bacaan kedua, Paulus meyakinkan umat di Efesus, Kristus sebagai gembala mengorbankan diri total, menyerahkan tubuh dan darah-Nya untuk menyatukan kembali manusia satu sama lain, dan bersama-sama disatukan dengan Allah.

Akhirnya Injil hari ini (Mrk 6:30-34) memperlihatkan kepada kita, betapa nyata, besar dan utuh perhatian Yesus sebagai Gembala kepada kebutuhan umat sebagai domba-domba-Nya. Menurut Injil Markus Yesus sungguh mendidik murid-murid-Nya secara utuh. Mereka diberi ajaran dan kemudian diutus untuk melaksanakannya.

Ketika mereka pulang dan memberikan laporan kepada-Nya, ternyata Yesus bukan hanya memperhatikan apa yang mereka wartakan, melainkan juga memperhatikan kebutuhan mereka. Murid-murid-Nya diajak pergi ke tempat sunyi untuk beristirahat, dan untuk meninjau kembali apa yang telah mereka selenggarakan.

Kita tadi ikut menyayikan Mazmur Tanggapan : “Tuhanlah gembalaku, tak akan kekurangan daku. Sekalipun aku harus berjalan di lembah yang kelam, aku tidak takut akan bahaya sebab Engkau besertaku.” Yesus ingin berada bersama dengan murid-murid-Nya, tetapi Ia ingin pula untuk memenuhi kebutuhan orang banyak, Ia meninggalkan sejenak murid-murid-Nya.

Demi kepentingan dan kebutuhan yang lebih besar, Yesus melupakan kebutuhan-Nya sendiri dan memberikan prioritas pertolongan-Nya kepada kebutuhan orang lain. Maka di tempat di mana Ia sebenarnya mau beristirahat, yaitu di seberang danau, lalu Yesus mulai mengajar lagi! Mengajar bagi Yesus bukanlah hanya sekadar menyampaikan kebenaran-kebenaran yang baru.

Isi ajaran yang mau disampaikan Yesus bukan hanya diberikan dalam kata-kata-Nya saja, melainkan juga disertai sikap dan cara-Nya yang khusus dalam bergaul dan berhubungan dengan orang-orang yang dijumpai-Nya. Isi apa yang dikatakan seseorang kepada orang lain tidak boleh pernah terpisah dari pribadi orang yang menyampaikannya itu. Yesus adalah seorang pribadi yang menyambut baik setiap orang (lih. Mrk 6:34).

Ia selalu menghendaki apa yang baik bagi orang lain. Maka setiap kata yang diucapkanNya terdapatlah kebaikan dan kasih-Nya, yang disampaikan Yesus adalah diri-Nya sendiri. Kasih adalah intisari kata-kata-Nya itu. Yesus mengatakan apa yang dilakukan-Nya sendiri. Yesus menyampaikan ajaran-Nya bukan hanya di bait Allah atau di kenisah, tetapi di semua tempat di manapun Ia berada. Yesus bukan hanya pengajar, Ia adalah pendidik sejati, sungguh seorang guru, sungguh seorang gembala.

Ia bukan hanya memberi ajaran untuk sekadar diketahui, melainkan untuk diterima, dipahami dan dihayati. Karena itu dengan mengajar Yesus memperkenalkan diri-Nya sendiri. Apa yang diajarkan-Nya sebagai guru, dilaksanakan-Nya sendiri juga sebagai gembala. Seorang guru atau pengajar memberi pelajaran dalam sekian jam dalam kelas di sekolah.

Tetapi seorang pendidik dan gembala memberi kesaksian atas ajarannya sepanjang hari! Marilah hidup kita ini, kita hayati dengan jiwa dan semangat yang diungkapkan dalam Mazmur Tanggapan antar Bacaan hari ini : “Tuhanlah gembalaku, aku tidak kekurangan” (Mzm 23).

Berkah Dalem

RD. St. M. Sumardiyo Adipranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here