HARI MINGGU BIASA KE XV – 14 JULI 2019

TEMA : “MILIKILAH IMAN YANG DIHIDUPI DENGAN PERBUATAN KASIH

Kita memasuki Minggu Biasa ke XV. Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati adalah salah satu perumpamaan yang hanya terdapat dalam Injil Lukas. Yesus mengisahkan perumpamaan di tengah bangsa Yahudi, yang saat itu kebingungan dengan kaburnya definisi “sesama“.

Sesama dapat diartikan sebagai saudara sekandung, semarga, satu-suku, atau sebangsa. Kecuali itu, orang yang memiliki relasi baik dengan mereka dapat disebut sebagai sesama. Yesus sendiri memiliki pengajaran yang jelas, semua orang tanpa kecuali adalah sesama kita. Itu berarti mereka yang memusuhi kita pun dapat kita sebut sebagai sesama.

Agaknya ajaran Yesus ini masih sulit diterima oleh rekan sebangsanya. Maka,Yesus mengisahkan perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Orang Samaria adalah suku bangsa yang tinggal di Palestina, namun dipandang rendah oleh bangsa Yahudi, bahkan dianggap kafir. Alasannya mereka adalah keturunan Yahudi, yang sudah tidak murni lagi karena adanya perkawinan dengan bangsa bangsa lain.

Menurut pendapatmu siapakah di antara ketiga orang ini, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” (ay 36). Yesus mau membongkar pola-pikir ahli Taurat. Yesus tidak jawab pertanyaan, “Siapakah sesamaku?” Yesus malah balik bertanya, “Bagi siapakah kamu telah menjadi sesama? Apakah kamu telah menjadi sesama bagi orang menderita dinsekitarmu?” Dan ini masih bisa dilanjutkan, “Ataukah kamu menjadi sesama hanya bagi orang-orang sekelompokmu?”

Pertanyaan ini juga ditujukan kepada kita. Injil hari ini menyentuh inti kehidupan beriman, yaitu “Iman yang dihidupi dengan perbuatan kasih.” Iman adalah rahmat, supaya rahmat itu tidak sia-sia, maka perlu usaha untuk memelihara dan mengembangkannya, sehingga berdaya guna bagi keselamatan sendiri dan orang lain. “Iman tanpa perbuatan adalah mati” kata Rasul Jakobus.

Ia menambahkan, “Jika ia tahu berbuat baik dan tidak melakukannya, maka ia berdosa.” Relasi yang intim dengan Allah harus berbuah kebajikan yang manis terhadap sesama. Doa, Ekaristi, kegiatan rohani harusnya menjadi spirit, sekaligus penggerak untuk mewujudkan iman, atau menjadi pendorong seseorang untuk membagikan kasih Allah kepada sesama.

Kedekatan dengan Allah justru menambah kekuatan kita untuk mewujudkan kasih, menumbuhkan kepekaan terhadap sesama, dan menimba kebaikan untuk sesama.

Berkah Dalem

RD. St. Sumardiyo Adipranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here