HARI MINGGU ADVEN IV – 23 DESEMBER 2018

BAHAGIAKAH SAUDARA SEBAGAI ORANG BERIMAN DALAM MENYAMBUT NATAL?”

Kita memasuki Minggu Adven IV. Bacaan Kitab Suci mengarahkan kita masuk dalam peristiwa Natal. Adakah sukacita dalam hatimu untuk menyambut Yesus? Nabi Mikha bernubuat hampir bersamaan dengan Nabi Yesaya. Yesaya bernubuat : “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes 7:14).

Nubuat Yesaya ini disamakan nubuat bagi Bunda Maria di masa depan sebagai
gadis yang akan melahirkan Yesus, Sang Emanuel. Dalam Kitab Mikha, kita temukan informasi jelas tentang sang Mesias. Tempat kelahirannya jelas di Bethlehem. Bethlehem itu kota Daud, maka Mesias berasal dari keturunan Daud. Bethlehem (bahasa Yahudi : “beth lehem” berarti “rumah roti“), (bahasa Arab disebut “bet lahm” berarti “rumah daging“). Makna “Bethlehem” jelas bagi kita, Yesus nantinya menjadi Roti Kehidupan.

Dialah Sabda yang menjadi daging dan tinggal di antara kita. Ini bukan faktor
kebetulan bagi Bethlehem, melainkan telah direncanakan Allah. Kota Daud, yang tidak punya nama besar menjadi termashyur, karena menjadi tempat lahirnya Yesus. Penginjil Lukas mengisahkan kunjungan Maria yang sedang hamil muda kepada Elisabet, yang sedang mengandung Yohanes Pembaptis. Ketika tiba di rumah Zakaria, Maria menyalami Elisabet dan Yohanes Pembaptis melonjak kegirangan dalam rahim ibunya.

Pengalaman sukacita Yohanes ini bersama Roh Kudus yang memenuhinya membuat Maria mengidungkan Magnificat : “Diberkatilah Engkau di antara para perempuan, dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang telah percaya bahwa apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Luk 1:42-45).

Kisah kunjungan Maria ke rumah Zakaria memiliki makna sangat mendalam. Elisabet mengakui Yesus dalam rahim Maria sebagai Mesias dengan berkata, “Ibu Tuhanku.” Bukan hanya Elisabet sekeluarga mengakui Yesus sebagai Anak Maria, namun kita semua saat ini percaya dan menerima Yesus sebagai Anak Bunda Maria. Bunda Maria itu perempuan yang terberkati. Ia berperan sangat penting dalam sejarah keselamatan. Ia melahiran Yesus, ibu Tuhan! Maria menjadi besar bukan karena dirinya, melainkan karena jasa Yesus, Puteranya.

Pertanyaan refleksi : “Apakah kita sudah menyiapkan hati dengan baik untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita?” Sambutlah Tuhan dengan
sukacita. Dia lahir di rumah roti dan rumah daging, karena Dialah Roti dari Surga, Roti Ekaristi. Dia lahir di rumah daging, karena Dia mempersembahkan Tubuh dan Darah-Nya untuk kita.

Berkah Dalem

RD. St. Sumardiyo Adipranoto

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here