Hari Minggu Biasa XXIII – 8 SEPTEMBER 2019

TEMA : “PERSIAPAN YANG BAIK ADALAH AWAL DARI KESUKSESAN

Kita memasuki Minggu Biasa XXIII. Hidup dalam kasih telah menjadi ikon bagi orang Kristen. Kita menyatakan, ajaran utama Yesus adalah kasih kepada Allah dan sesama. Bila hidup kita penuh dengan kasih, hal itu sudah selayaknya. Penegasan hidup dalam kasih dinyatakan Yesus, “Barang siapa tidak memanggul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Salib kehidupan satu dengan lainnya itu sangat berbeda. Seorang nenek yang sakit selama belasan tahun, begitu rindu pengen dipanggil Tuhan, karena tidak tahan dengan penyakitnya yang tidak kunjung sembuh. Seorang ibu harus menanggung 4 anaknya, yang masih kecil dengan kerja apa saja, setelah suaminya meninggal. Ia hanya terima pensiun janda tidak lebih dari Rp 500.000 per bulan.

Inilah salib kehidupan salib kehidupannya. Di balik kisah itu, ada pasangan suami-isteri, cukup hangat dan harmonis, aktivis Dewan Pastoral Paroki, sangat merindukan anak dalam keluarga mereka. Namun sudah belasan tahun menikah, Tuhan menganurahi anak. Ini pun sebuah salib keluarga, kendati secara materi kecukupan mereka serba kecukupan.

Yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku. Yesus bicara tentang syarat mengikuti-Nya. Hanya satu hal, totalitas. Idenya, bila orang sungguh berkomitmen dan memberikan diri total, situasi apapun akan menjadi bahagia baginya. Namun totalitas bukan perkara mudah. Apa yang ditunjukkan Yesus dalam Injil memberikan gambaran tentang kesulitan itu.

Pertama adalah perihal memikul salib. Meski kita menyadari bahwa itu satu-satunya jalan untuk mengikuti Yesus, bukankah pernah juga kita berharap supaya salib hidup kita dienyahkan dari hidup kita; setidaknya dikurangi, diringankan, diberi dispensasi agar mengurangi rasa menderita. Kedua adalah cara berpikir. Tidak jarang sebenarnya kita berada dalam situasi sulit dalam hidup kita di saat kita juga harus membuat keputusan sulit.

Dalam situasi itu, kita bisa saja mempercayai pemikiran dan kekuatan kita sendiri, sedangkan sebetulnya musuh yang dihadapi jauh lebih kuat. Tuhan mengingatkan kita untuk berani menanggalkan keyakinan berlebihan atas kekuatan diri sendiri, dan memberi ruang kepada Tuhan untuk bekerja. Pengajaran Yesus sekaligus mengajak kita berefleksi tentang kelekatan.

Masalah pokoknya bukan pada barangnya, atau orang tuanya, atau keluarganya, atau yang dicintai, tetapi pada ego dan kebutuhan kita, pada cinta diri dan kukuhnya tembok kebanggaan yang kita bangun sendiri.

Berkah Dalem

RD. St. Sumardiyo Adipranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here