MINGGU PASKAH IV – MINGGU PANGGILAN – 22 APRIL 2018

TEMA : “HENDAKNYA MENGIKUTI BISIKAN SUARA GEMBALA BAIK

Kita memasuki Hari Minggu Paskah ke-4. Hari Minggu ini juga dikenal dengan nama Minggu “Buon Pastore” atau Minggu “Gembala Baik“. Mengapa disebut demikian? Dalam bacaan-bacaan suci, terutama Injil, Yesus mengatakan diri-Nya atau mengibaratkan diri sebagai gembala bagi domba-Nya. Hari Minggu ini juga disebut “Minggu Panggilan“.

Alasannya, Gereja memerlukan orang-orang tertentu yang dipanggil dan dipilih secara istimewa untuk melayani Gereja, laksana gembala yang memperhatikan domba-domba. Kita menerawang kehidupan gembala di Palestina. Gembala di Palestina berbeda dengan gembala di negeri kita. Di negeri kita kambing atau domba digembalakan dengan tujuan pada usia atau bobot tertentu kambing atau domba itu dapat dijual atau dipotong dan dikonsumsi dagingnya.

Di Palestina umumnya domba dipelihara untuk diambil bulu atau susunya. Maka, domba-domba itu akan hidup lama dengan si gembalanya, karena ia tidak disembelih. Di sana terjadi relasi akrab antara gembala dan dombanya. Sering si gembala memberi nama kepada dombanya, entah Si Manis, si Hitam, Si Belang dsb. Sang gembala menjaga kawanan domba itu siang dan malam dari pelbagai ancaman, baik perampok atau binatang buas. Sang gembala sungguh mempertaruhkan nyawanya.

Yesus menyebut diri sebagai gembala (Yoh 10:11-18). Gembala itu personifikasi diri yang memimpin, memelihara dan melindungi, sekaligus berkorban bagi mereka. Bahkan Ia menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-Nya, dalam hal ini umat manusia. Jika kita memakai gambaran gembala di Palestina, relasi timbal-balik antara gembala dan domba akan berhasil dengan baik, bila setiap pihak menjalankan fungsinya secara baik dan benar. Peran gembala dalam hal ini : memimpin, memelihara dan melindungi, dsb (lih. Mzm 23, bdk. Yoh 10:1-5).

Sebaliknya, sebagai domba, harus taat kepada sang gembala. Domba harus melakukan arahan gembalanya. Ia harus mempercayakan diri pada sang gembala, jika mau aman, sejahtera dan selamat. Yesus mengingatkan, di sekitar kita ada banyak suara lain yang mencoba menirukan suara-Nya.

Mungkin suara itu menjanjikan kenyamanan, kenikmatan dan prestasi. Kita tidak bisa menjamin apakah hal itu nantinya demi kebaikan kita? Atau kita sedang dibujuk supaya mengikuti suaranya dengan maksud menjerumuskan kita? Suara itu seakan benar merupakan solusi bagi masalah kita.

Domba yang baik pasti akan bisa membedakan mana suara gembalanya, dan mana yang bukan. Dari mana kita dapat membedakan suara gembala yang asli dan bukan? Yakni dengan kepekaan diri. Kepekaan itu dapat diasah, saat kita mau akrab bergaul dengan Sang Gembala itu melalui Sabda-Nya. Suara gembala itu jelas terdengar dalam nurani kita.

Ia mengingatkan kita akan sesuatu yang dikatakan Sang Gembala. Melenceng sedikit dari apa yang diajarkan-Nya bisa membuat kita tidak sejahtera, bahkan celaka. Betapa pun sulit dan terjalnya jalan yang kita tempuh, jika kita mendengarkan suara-Nya, pasti kita akan aman, sejahtera dan selamat.

BERKAH DALEM

RD. St. M. Sumardiyo Adipranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here