HARI MINGGU BIASA KE XXIII – 10 SEPTEMBER 2017

Yeh 33:7-9 Rm 13:8-10 Mat 18:15-20

CIPTAKANLAH HIDUP SALING MENGAMPUNI DI ANTARA SESAMAMU

Kita memasuki Minggu Biasa XXIII. Injil Matius hari ini (Mat 18:15-20) menunjukkan kepada kita betapa pentingnya kesediaan semua anggota komunitas, yaitu Gereja untuk saling memaafkan. Ditekankan pula perlunya saling menegur (correctio fraterna) bila berbuat dosa atau kesalahan, tetapi juga tidak terlupakan keharusan berdoa (ay. 19-20).

Pada dasarnya dalam Injil hari ini kita menemukan ajaran Gereja tentang pertobatan dan rekonsiliasi atau pengampunan. Sesat dan tobat mengundang pengampunan dari Allah dan rekonsiliasi dengan Gereja. Semua itu terungkap secara liturgis dalam Sakramen Rekonsiliasi. Hanya Allah yang dapat mengampuni dosa kita.

Ia adalah Putera Allah, maka Yesus menyebut diri-Nya “Putera manusia berkuasa di dunia untuk mengampuni dosa“, dan dapat melakukannya dengan kekuatan ilahi. Yesus berkata: “Dosamu sudah diampuni” (lih. Katekismus Gereja Katolik = KGK no. 1441).

Kuasa yang diberikan Yesus kepada Petrus ialah untuk “melepaskan” dan “mengikat” suatu ikatan hubungan dengan Allah dan sesama. “Kata-kata mengikat dan melepaskan berarti siapa pun yang akan kamu kucilkan dari persekutuan, maka Allah pun akan mengucilkannya dari persekutuan dengan diri-Nya, siapa pun yang akan kamu terima kembali dalam persekutuanmu, maka Allah akan menerimanya kembali dalam persekutuann dengan-Nya. Perdamaian dengan Gereja tidak dapat dipisahkan dari perdamaian dengan Allah” (KGK no.1445).

Kuasa yang diberikan Yesus kepada Petrus juga diberikan kepada dewan para rasul, di mana Yesus adalah Kepala-Nya, selanjutnya juga kepada para Imam. Sebab Yesus mengadakan Sakramen Pengampunan guna menolong warga Gereja yang berdosa. Khususnya bagi mereka, yang sejak permandiannya telah jatuh ke dalam dosa berat, ia kehilangan rahmat baptisan dan terluka dalam persekutuan dengan Gereja (KGK no.1446).

Marilah kita hidup saling mengampumi satu sama lain. Kita mohon Tuhan menghilangkan kekerasan dan kebekuan hati kita, agar dapat menemukan sukacita, karena kita hidup saling memaafkan sesama kita. Bukan sekadar melupakannya, melainkan sungguh berkehendak baik dan tulus untuk mau mengampuni/memaafkan sesama, seperti Allah dalam diri Yesus mengampuni dosa kita. Petrus selalu memegang kunci Kerajaan Surga.

Kunci itu diteruskan kepada segenap Imam, yang merupakan Dewan Imam yang didirikan Kristus, untuk membuka jalan untuk bertemu dengan Kristus yang hadir dalam Gereja-Nya.

Berkah Dalem

RD St. M. Sumardiyo Adipranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here