HARI MINGGU BIASA KE XII – 24 JUNI 2018

HARI KELAHIRAN SANTO YOHANES PEMBAPTIS

TEMA : “BAGI TUHAN, TIDAK ADA YANG MUSTAHIL

Hari ini Gereja merayakan Hari Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis. Kelahirannya ditandai dengan peristiwa yang mengejutkan. Ia dilahirkan dari seorang ibu yang sudah lanjut usia, ayahnya Zakharia sempat bisu, serta menimbulkan reaksi orang-orang sekitar tempat tinggal mereka yang juga heboh melalui ungkapan Injil : “menjadi buah tutur“.

Yohanes Pembaptis sejak lahir, masa hidupnya dan akhirnya kematiannya juga ditandai dengan peristiwa yang mengherankan. Yang menarik proses kelahirannya ditandai keheranan dan ketakutan orang-orang atas karya Allah yang istimewa pada diri Yohanes Pembaptis. Dan begitu juga proses kematian Yohanes Pembaptis ditandai dengan keheranan dan ketakutan, dari raja Herodes dan Herodias.

Sedangkan sepanjang hidupnya, Yohanes dicatat oleh Santo Lukas “Anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya, dan ia tinggal di padang gurun sampai hari ia harus menampakkan diri kepada Israel” (Luk. 1: 80). Kita renungkan bahwa seorang yang istimewa dan menjadi pilihan Allah ternyata justru harus menjalani kehidupan yang penuh doa dan matiraga, bahkan kematiannya melalui jalan kemartiran.

Hidup di padang gurun menunjuk cara hidup yang asketis atau matiraga yang ketat dan berat, dan semua itu dijalani Yohanes Pembaptis dengan rela dan ikhlas hati, sukacita karena dia tahu tujuan serta tugas perutusan hidupnya : mempersiapkan dan merintis jalan bagi Tuhan Yesus Kristus. Di kemudian hari Yohanes Pembaptis menyampaikan seruan pertobatan, seperti yang kita dengarkan pada masa Advent, yakni “luruskanlah jalan bagi Tuhan” dengan ungkapan yang menarik, semua bukit (kesombongan dan keangkuhan) harus diratakan.

Ini adalah spiritualitas atau semangat kerendahan hati, yang menjadi kekhasan Yohanes Pembaptis. Dan jalan yang berliku-liku (menduakan Allah) harus diluruskan (Luk.3:1-6). Saudara terkasih, mungkin kita tidak seheboh Yohanes Pembaptis saat dilahirkan. Mungkin kita tidak perlu menempuh jalan hidup dipadang gurun seperti Yohanes Pembaptis. Barangkali kita tidak perlu mengalami kemartiran seperti orang suci ini.

Namun satu hal perlu kita hidupi dan jalani, kita juga diundang Tuhan untuk menjalani hidup doa, matiraga, hidup pertobatan dan menjalani semangat kemartiran melalui berbagai penderitaan dan kehidupan yang sulit serta beban berat, yang harus ditanggung, justru karena kita mau setia dengan iman Kristiani. Kita mau setia dengan panggilan kita.

Kita mau setia dengan perutusan hidup kita ini bagi Tuhan Yesus Kristus. Setiap hari, setiap saat Allah telah berbuat baik kepada kita. Sekarang menjadi tugas kita bersyukur dan berterima kasih atas apa yang telah kita alami ini. Bukan saja dengan perkataan, bukan saja dengan pujian, tetapi terlebih dengan perbuatan nyata demi kemuliaan Tuhan dan kebahagiaan sesama.

Berkah Dalem

RD. St. M. Sumardiyo Adipranoto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here