GEREJA Katolik Kristus Raja, Serang, Minggu (10/2/2019) lain dari biasanya. Pada hari itu, gereja ini didominasi warna merah. Pasalnya, umat setempat meggelar misa syukur Tahun Baru Imlek 2570. Perbedaan dari minggu biasanya yakni pada dekorasi gereja, busana pastor, umat dan panitia perayaan ekaristi, bernuansa Imlek. Dalam tradisi Tionghoa, Imlek merupakan tahun baru China yang berkaitan erat dengan pesta perayaan datangnya musim semi yang berakhir 15 hari setelahnya atau yang dikenal dengan Cap Go Meh. Perayaan Imlek juga meliputi doa atau sembahyang Imlek sebagai bentuk ucapan syukur serta harapan ditahun yang baru kepada Tuhan, dan saat untuk berkumpul bersama keluarga, dan masih banyak lagi tradisi yang sampai sekarang dilestarikan.

Suasana Imlek sudah terasa ketika umat masuk ke halaman gereja. Lampion tampak tergantung di plafon teras gereja. Lampion juga dipasang di setiap tiang dalam gereja. Adapun di bagian depan altar berhiaskan bunga, seakan mengantarkan umat pada salib meja altar yang juga didesain apik dengan menghadirkan nuansa warna merah. Perayaan Imlek kali ini mengusung tema “Dengan Suka Cita Kita Merayakan Imlek Bersama Keluarga Besar Paroki Kristus Raja –Serang”. Menurut Ketua Panitia, Caecillia Jane Priscilla, alasan pemilihan tema ini adalah karena tahun baru China atau yang biasa disebut Imlek dalam tradisi Chinesse. Ini merupakan saat-saat bahagia atau moment berbahagia, dimana kita bisa berkumpul bersama keluarga, berdoa bersama, dan Makan Jeruk serta bagi-bagi Angpau untuk menyambut datangnya Musim Semi. Begitu juga pada moment ini, semua berkumpul dengan penuh sukacita bersama-sama berdoa, makan jeruk, dan bagi-bagi angpau untuk merayakan Imlek. “Tentunya yang diharapkan dari misa bernuansa Imlek ini adalah agar semakin banyak umat Keturunan Chinesse yang mau terlibat dalam kegiatan gereja dan pelayanan, baik dalam Lingkungan, maupun di Paroki,” jelaa Jane.

Perayaan Ekaristi bernuansa Imlek dipimpin RD. Stefanus Edwin Ticoalu sebagai Selebran Utama serta RD. Stefanus Maria Sumardiyo Adipranoto dan RD. Bartholomeus Wahyu Kurniadi. Dalam homilinya Romo Edwin menyampaikan 2 hal pokok yang berkenaan dengan bacaan Kitab Suci untuk buah-buah rohani kita. PERTAMA, Kita belajar dari pengalaman Simon. Meskipun lelah karena bekerja semalaman dan tidak mendapat ikan akan tetapi tetap mau mendengarkan apa yang diperintahkan Yesus sehingga Simon dapat menangkap ikan dan beralih profesi menjadi penjala manusia. “Sering kali kita masih kurang mau mendengarkan dan menjalankan apa yang Tuhan sabdakan kepada kita. Oleh karena itu dalam semangat pelayanan, marilah kita mendengarkan sabda Tuhan sehingga kita akan menjadi penjalah manusia yang handal,” pinta RD Edwin

KEDUA, Menjadi orang yang rendah hati dihadapan Tuhan. Ketika kita menyadari betapa luar biasanya Tuhan dan kita menjadi orang yang lemah sehingga kita harus melakukan banyak pertobatan. Singkatnya orang yang rendah hati pasti akan ditinggikan Tuhan, tetapi orang yang sombong tidak layak dihadirat Tuhan.

Sebelum mengakhiri homilinya RD. Edwin menekankan bahwa kita sungguh-sungguh harus menjalankan apa yang dikehendaki Tuhan untuk menjadi penjalah manusia. Dirinya berharap, semoga di Tahun Baru Imlek ini, kita juga harus bertolak ketempat yang lebih dalam lagi dalam iman kita serta membawa banyak orang untuk datang kepada Yesus supaya mereka juga bisa merasakan kasih karuniah Tuhan sebagaimana yang sudah kita rasakan. Setelah perayaan ekaristi semua umat mendapatkan jeruk dari panitia dan selanjutnya diadakan pertunjukan Barong Sai di halaman gereja.(Komsos Kristus Raja – Serang).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here